Belajar dari Kesuksesan Upaya Penanganan COVID-19 di Empat Negara

Belajar dari Kesuksesan Upaya Penanganan COVID-19 di Empat Negara

Belajar dari Kesuksesan Upaya Penanganan COVID-19 di Empat Negara

Oleh Syadza Alifa, M.Kesos

Calon Widyaiswara Ahli Pertama Kemensos RI

 

Kasus Corona di Indonesia hingga saat ini terus menunjukkan peningkatan kasus. Per tanggal 12 Mei 2020, jumlah kasus positif COVID-19 bertambah sebanyak 484 sehingga jumlah totalnya menjadi 14.749 orang. Sedangkan jumlah kasus sembuh juga mengalami peningkatan sebanyak 183 orang sehingga total pasien yang telah sembuh menjadi 3.063 orang dan kasus kematin meningkat menjadi 1.007 orang (Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19). Menghadapi kasus COVID-19 yang semakin mengkhawatirkan ini, Pemerintah Indonesia, khususnya di beberapa daerah episentrum COVID-19, telah memberlakukan kebijakan dan peraturan yang ketat demi mencegah penularan semakin meluas.  Saat ini Pemerintah Indonesia telah memberlakukan kebijakan seperti PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) yang membatasi pergerakan dan lalu lintas masyarakat dalam dan antar kota, pembatasan jam kerja operasional transportasi publik, mengadakan check point di beberapa lokasi untuk memantau pengendara kendaraan, membangun rumah sakit dan menunjuk rumah sakit rujukan khusus penanganan COVID-19, mewajibkan social distancing dan physical distancing, meliburkan sekolah dan kampus, memberlakukan sistem kerja Work From Home bagi seluruh pegawai perkantoran (dengan mengikuti syarat tertentu), melarang kegiatan yang menimbulkan keramaian, dan lain-lain.

Selain itu, Presiden juga telah menginstruksikan agar strategi penanganan COVID-19 dilakukan dengan aktif dan cepat khususnya yang berkaitan dengan realokasi anggaran, memastikan ketahanan pangan, memperkuat sektor kesehatan melalui layanan kesehatan dasar dan asuransi nasional skema (BPJS) untuk pasien COVID-19, perubahan metode pengajaran dan pembatalan ujian nasional sekolah, memperkuat pemerintah daerah dan ekonomi lokal, pengurangan pajak untuk komoditas tertentu, dan implementasi berbagai strategi ekonomi dan fiskal untuk memastikan mereka yang terkena dampak menerima kompensasi tertentu seperti misalnya adanya kartu Prakerja bagi masyarakat yang terkena PHK (Djalante et.al., 2020).

Namun melihat dari perkembangan kasus COVID-19 di Indonesia saat ini, nampaknya upaya penanganan COVID-19 yang telah dilakukan Pemerintah Indonesia belum menunjukkan hasil yang signifikan. Sementara itu, di beberapa Negara lainnya justru telah menunjukkan hasil yang sangat signifikan dan patut menjadi contoh bagi Pemerintah Indonesia. Beberapa Negara yang telah diakui cukup berhasil tersebut yaitu Korea Selatan, China, Iran, dan Vietnam.

 

Penanganan COVID-19 di Korea Selatan

Ada tiga hal utama yang dilakukan Pemerintah Korea Selatan dalam penanganan virus corona. Pertama, pemerintah Korea Selatan mengadakan pengujian dengan menggunakan drive-thru-clinics. Dalam satu hari, sekitar 15 ribu warganya dapat dites virus sehingga meminimalisir penularan baik masih berupa gejala ringan hingga gejala berat. Selain itu, pemrosesan hasil tes pun tidak perlu menunggu waktu lama. Dokter dan tenaga medis bekerja 24 jam untuk segera memproses hasil tes masyarakat sehingga masyarakat dan pemerintah dapat segera mengetahui jumlah kasus terkini tiap harinya. Pemerintah Korea Selatan juga telah menciptakan jaringan 96 laboratorium milik pemerintah dan swasta untuk menguji keberadaan virus corona sehingga pengujian bisa dilakukan secara cepat dan efektif. Alhasil tingkat kematian akibat virus corona di Korsel adalah 0,7% (BBC, 13 Maret 2020).

Kedua, Pemerintah Korea Selatan selalu memberikan informasi yang terbuka kepada publik. Contohnya masyarakat bisa mengetahui lokasi GPS dari seseorang yang terkonfirmasi COVID-19 melalui aplikasi sehingga warga lain yang belum tertular bisa menjauhi area tersebut. Ketiga, Pemerintah Korea Selatan melakukan Social Distancing dengan cara menutup sekolah-sekolah, kantor-kantor dan melarang pertemuan besar. Selain itu, terdapat pula kamera pengecek suhu di tiap pintu masuk gedung dan petugas berpakaian pelindung di tempat umum untuk mengingatkan warga agar mencuci tangan mereka. Dengan berbagai strategi ini, angka sembuh di Korea Selatan menjadi cukup tinggi dengan angka kematian yang sangat kecil dibandingkan dengan China, Italia dan Iran (Kompas, 16 Maret 2020). Di Korea Selatan, tidak diberlakukan karantina wilayah atau lockdown. Semua kegiatan dan transportasi berjalan normal. Tidak ada pembatasan jam atau jalur. Namun pembatasan kegiatan memang tetap diberlakukan dalam rangka social distancing. Dari situ bisa dilihat, secara aktivitas sehari-hari tidak ada yang berbeda, tetapi masyarakat semakin waspada (Aisyah, 2020).

 

Penanganan COVID-19 di China

Sebagai Negara yang menjadi episentrum pertama kasus COVID-19 di dunia, China kini telah menunjukkan keberhasilannya untuk menurunkan kasus COVID-19. Langkah pertama yang dilakukan Pemerintah China yaitu melakukan lockdown di Kota Wuhan yang merupakan pusat awal kasus COVID-19 di China. Tidak hanya itu, Pemerintah China langsung membangun sebuah rumah sakit baru khusus untuk penanganan Corona di Wuhan dengan kapasitas 1000 dipan. Untuk menanggulangi penyebaran virus yang semakin cepat, Pemerintah China membangun rumah sakit khusus kedua dengan kapasitas 1.600 dipan (Tirto, 18 Maret 2020).

Bagi masyarakat luas, Pemerintah China memberlakukan larangan perjalanan dan mewajibkan social distancing untuk mencegah penyebaran yang semakin massif. Pemerintah pun mewajibkan seluruh pendatang dari luar negeri untuk menjalani karantina selama 14 hari (CNN Indonesia, 30 Maret 2020). Pemerintah China juga memiliki sistem pengawasan yang canggih. Mulai dari membeli telepon genggam hingga menggunakan aplikasi tertentu, warga China akan meninggalkan jejak data yang bisa dilacak hingga ke KTP mereka sehingga pemerintah dapat mengawasi ODP dan PDP secara ketat. Jika orang tersebut menaiki transportasi publik dan berpeluang menginfeksi orang, pesan teks akan dikirimkan melalui sebuah aplikasi kepada orang-orang yang untuk memberi peringatan adanya risiko penularan (BBC, 2 April 2020). Setiap orang diberi kode QR berwarna, tergantung risiko yang mereka miliki. Jika orang tersebut diberi kode warna hijau berarti orang tersebut bebas dari risiko. Namun jika orang tersebut diberi kode warna oranye, berarti orang tersebut telah sempat memasuki daerah berpotensi penyebaran virus. Dan jika orang tersebut ditandai dengan warna merah berarti orang tersebut telah didiagnosa positif COVID dan berisiko menularkan.

Untuk mendukung sistem pelacakan ini, Pemerintah China menerapkan karantina yang ketat dengan menjaga setiap pintu keluar masuk blok-blok apartemen. Melalui berbagai strategi diatas, China berhasil menurunkan tingkat infeksi baru dari ribuan sehari ketika puncak wabah terjadi, hingga menjadi nol dalam waktu lima minggu (BBC, 2 April 2020).

 

Penanganan COVID-19 di Iran

Universitas Johns Hopkins merilis angka kesembuhan dari korban terjangkit COVID-19 yang saat ini menjadi pandemi global. Negara yang menduduki peringkat pertama sebagai Negara dengan angka kesembuhan tertinggi di dunia adalah China. Kemudian setelah China, Negara yang menduduki peringkat kedua dengan angka kesembuhan tertinggi di dunia adalah Iran (Kumparan, 27 Maret 2020).Pemerintah Iran mengklaim bahwa angka kesembuhan warganya yang terinfeksi coronavirus menjadi yang tertinggi di luar China, yakni dengan 10.457 orang yang telah dinyatakan pulih. Sebanyak 12.391 dari total 38.309 pasien infeksi virus corona di Iran dilaporkan sembuh atau 32,3 persen. Sementara itu, pasien yang dinyatakan meninggal sebanyak 2.640 orang (CNN Indonesia, 30 Maret 2020).

Untuk menangani kasus Corona, Pemerintah Iran telah mengambil langkah-langkah strategis untuk mencegah penyebaran virus corona yang lebih masif. Langkah-langkah yang diambil Pemerintah Iran dalam proyek bersama mengatasi penyebaran dan efek virus Corona (Kompas, 9 Maret 2020) yaitu: 1) Meliburkan sekolah; 2) Pengadaan Rumah sakit dan ambulan khusus; 3) Alokasi dana khusus; 4) Produksi massal masker dan disinfektan; 5) Penyemprotan fasilitas umum; 6) Pemeriksaan rutin di area public; 7) Sosialisasi kesehatan diri; 8) Transparansi jumlah kasus corona; 9) Tindakan tegas penyebar hoaks; dan 10) Program vaksin dan obat.

 

Penanganan COVID-19 di Vietnam

Penanganan COVID-19 di Vietnam patut menjadi contoh bagi Negara lain. Pemerintah Vietnam belum mencatatkan korban meninggal akibat virus Corona hingga saat ini. Bahkan dengan sumber daya yang terbatas, mereka mampu meredam penyebaran virus Corona secara maksimal hingga menunjukkan hasil yang signifikan. Dibandingkan dengan Negara-negara maju yang memiliki sumber daya melimpah, Vietnam justru menunjukkan kemampuannya untuk menangani kasus COVID-19 di negaranya.

Hingga 6 April 2020, menurut data John Hopkins University, kasus virus Corona terkonfirmasi di Vietnam adalah 241, dengan 90 pasien sembuh. Sementara kematian akibat virus Corona di Vietnam adalah nol. Pada pertengahan Februari lalu, Vietnam bahkan mampu menyembuhkan seluruh pasien yang terinfeksi virus corona. Sebanyak 16 pasien tersebut kemudian diperbolehkan pulang dari rumah sakit saat itu. Vietnam mampu meredam penyebaran virus ini hingga awal Maret. Mereka sama sekali tidak mendeteksi adanya kasus baru dari 13 Februari hingga 6 Maret. Di hari berikutnya, barulah pemerintah melaporkan dua kasus baru (CNN Indonesia, 24 Maret 2020).

Adapun beberapa usaha yang telah dilakukan Pemerintah Vietnam yaitu : 1) Menutup perbatasan, melarang warga negara asing masuk ke Vietnam, dan mewajibkan karantina 14 hari (BBC Indonesia, 24 April 2020); 2) Menelusuri kontak dengan cepat bagi orang-orang yang terinfeksi Corona dan mengandalkan pendekatan rendah biaya dengan fokus pada pelacakan virus secara agresif dan mengisolasi orang-orang yang terinfeksi (BBC Indonesia, 24 April 2020); 3) Menggerakkan masyarakat dengan meluncurkan kampanye informasi melalui pesan dan video menarik (BBC Indonesia, 24 April 2020); 4) Memaksa karantina dan daerah-daerah yang dikarantina dijaga oleh milisi lokal (BBC Indonesia, 24 April 2020); 5) Tindakan medis yang mengikuti protocol kesehatan ketat (CNBC Indonesia, 5 Maret 2020); 6) Meliburkan sekolah (CNBC Indonesia, 5 Maret 2020).

 

            Dari seluruh upaya penanganan COVID-19 yang telah dilakukan oleh keempat Negara diatas, pada dasarnya hampir semuanya telah dilaksanakan oleh Pemerintah Indonesia. Kebijakan penanganan COVID-19 di keempat Negara tersebut sebenarnya sama, hanya sedikit kebijakan yang berbeda yang disesuaikan dengan kondisi lokal masyarakat di Negara tersebut. Namun ada beberapa hal yang menjadi fokus utama penanganan COVID-19 di empat Negara tersebut yang terlihat belum maksimal di Indonesia yaitu penelusuran kontak korban positif Corona dan tes kesehatan massal. Di empat Negara tersebut, penelusuran kontak korban positif Corona dilakukan dengan sangat aktif. Upaya pelacakan dan pengawasan tersebut ternyata cukup efektif untuk mencegah penyebaran virus lebih luas. Selain itu, tes kesehatan massal yang dilakukan untuk memastikan jumlah riil kasus Corona di masyarakat.

Namun memang upaya penanganan COVID-19 kembali lagi pada kapasitas dan kemampuan yang dimiliki pemerintah di masing-masing Negara. Bagi Negara yang memiliki sumber daya (dana, teknologi, SDM, SDA) yang cukup besar, upaya penanganan COVID-19 bisa dengan leluasa dilakukan mengingat sumber daya yang dimiliki cukup banyak. Namun melihat kondisi Indonesia saat ini, negara yang bisa dicontoh yaitu Vietnam karena Vietnam memiliki sumber daya yang terbatas namun terbukti mampu mengatasi kasus Corona di negaranya dengan sangat baik. Dalam mengatasi kasus COVID-19 saat ini, Pemerintah Indonesia harus terus memaksimalkan upaya penanganan yang sudah dilakukan sambil berproses melakukan upaya lainnya seperti pelacakan dan pengawasan yang aktif dan tes kesehatan massal. Satu hal lagi kekuatan Indonesia yang bisa dimanfaatkan dalam penanganan COVID-19 yaitu solidaritas sosial dan kearifan lokal masyarakat Indonesia. Hal ini karena penanganan Corona juga harus mampu menggerakkan masyarakat dari bawah untuk berpartisipasi aktif dalam mencegah penyebaran lebih luas.



Bagikan :