Dampak Pandemi Virus Corona Terhadap Kehidupan Seniman

Dampak Pandemi Virus Corona  Terhadap Kehidupan Seniman


ditulis Oleh : Jumari Haryadi



Pandemi virus corona (covid-19) telah melanda dunia. Menyebarnya virus ini bermula dari Kota Wuhan, Tiongkok akhir Desember 2019 lalu yang menyebabkan 82.160 orang terpapar dan lebih dari 3.300 orang meninggal dunia (sumber: liputan6.com 13/4/2020). Virus ini menyebar dengan cepat dan lebih dari 118 negara di dunia terkena dampaknya sehingga Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa Covid-19 sebagai pandemi global (sumber: kompas.com 12/3/2020). 

Indonesia menjadi salah satu negara yang terkena dampak cukup parah. Berdasarkan data yang disampaikan oleh juru bicara pemerintah Indonesia untuk penanganan covid-19 Achmad Yurianto melalui konferensi pers di Gedung BNPB Jakarta Timur, Senin (13/4/2020), Jumlah kasus positif covid-19 tercatat 4.557 orang dan 399 orang meninggal dunia.

Berkaitan dengan penanggulangan pandemi covid-19, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo menerbitkan Peraturan Pemerintah tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Peraturan tersebut diambil oleh dengan tujuan untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona. 

Sesuai dengan penjelasan dalam UU nomor 6/2018, PSBB adalah pembatasan kegiatan penduduk dalam suatu wilayah yang diduga terinfeksi penyakit dan/atau terkontaminasi. Pembatasan berskala besar ditetapkan oleh menteri.

PSBB bisa diterapkan dalam bentuk peliburan terhadap sekolah dan tempat kerja, pembatasan kegiatan keagamaan, dan juga pembatasan kegiatan di tempat atau fasilitas umum. Kebijakan tersebut membuat terhentinya berbagai aktivitas masyarakat yang menyebabkan banyak orang kehilangan mata pencahariannya, termasuk para seniman yang selama ini bekerja di sektor informal.

Dampak Covid-19 terhadap Seniman

Agus Hamdani, seorang seniman yang juga Ketua Forum Pelukis (Forkis) Cimahi, Jawa Barat ikut merasakan dampak pandemi covid-19. Menurutnya, pandemi virus corona ini sangat berdampak pada semua aspek kehidupan, termasuk para seniman yang notabene tidak memiliki gaji tetap dan hanya mengandalkan hidup dari jasa berkeseniannya.

“Saya sering berkomunikasi dengan para seniman yang jadwal kegiatannya dibatalkan karena adanya wabah ini. Para perupa terpaksa sulit berkarya karena sisa uang yang ada lebih fokus dibelanjakan untuk membeli kebutuhan sehari-sehari daripada membeli bahan untuk berkesenian,” ujar Agus dengan nada sendu.

Bukan hanya praktisi seni, para pengajar seni yang juga kebanyakan pengisi kegiatan ekstra kurikuler di sekolah-sekolah juga banyak yang terkena dampak covid-19. Sumber penghasilan mereka hilang karena sekolah-sekolah diliburkan untuk waktu yang tidak ditentukan, sesuai dengan anjuran pemerintah terkait PSBB. Sementara itu di sisi lain, bekal keperluan sehari-hari terus menipis.

Kusdono Rastika, pelukis kaca asal Kota Cirebon, Jawa Barat juga mengalami hal yang sama. Sejak berjangkitnya wabah covid-19, omset penjualan lukisannya menurun drastis. Apalagi setelah adanya kebijakan PSBB, dia sama sekali sudah tidak memiliki penghasilan.

“Dampaknya sangat prihatin bagi saya pribadi. Selama ini saya menafkahkan anak istri mengandalkan jual lukisan kaca. Apa lagi sekarang di Jakarta banyak kasus corona sehingga ada penerapan PSBB. Saya jadi tidak bisa menawarkan lukisan ke sana, padahal  pelanggan saya banyak orang Jakarta. Sementara setiap hari harus makan. Pengeluaran ada, pemasukan enggak ada. Jadi sangat prihatin dampaknya,” ujar Kusdono dengan nada prihatin.

Pelukis asal Tegal, Jawa Tengah, Balchi Bara berpendapat senada bahwa  sejak wabah corona melanda Indonesia, dirinya dan rekan-rekan sesama seniman lainnya tidak bisa berkumpul untuk sekadar berkarya bersama atau berdiskusi kecil.

“Yang paling dirasakan, penjualan lukisan jadi menurun. Tempat yang biasa buat saya melukis terpaksa harus saya tutup karena takut menerima tamu yang berkunjung,” ujar pemilik situs balchibara.com ini serius. 

Balchi Bara termasuk seniman kreatif. Jauh sebelum adanya wabah corona, dirinya sudah merintis pemasaran melalui online. Dia membuat situs internet yang isinya berupa galeri lukisan sehingga ada alternatif dalam memasarkan karyanya. Bahkan dia sering membantu memasarkan karya rekan-rekannya sesama seniman.

“Kenyataannya memang banyak seniman mengeluh sejak kasus corona merebak, apalagi tentang penjualan karya. Makanya saya membantu rekan-rekan jual karya melalui lapak online. Dampak corona terhadap ekonomi bagi seniman sangat memang sangat dirasakan sekali,” pungkas Balchi.

Tentu masih banyak lagi seniman lainnya di seluruh Indonesia yang mengalami nasib serupa. Mereka semua rata-rata kesulitan dalam mencari nafkah. Kalau tidak ada perhatian dari pemerintah, tentu sangat hal ini bisa membuat mereka tidak berdaya.

Solusi Mengatasi Kesulitan Ekonomi 

Adanya musibah pandemi covid-19 ini memang telah membuat hampir semua aktivitas menjadi lumpuh. Seniman yang terbiasa berkegiatan di luar rumah terpaksa harus berdiam diri di rumah karena mengikuti anjuran pemerintah untuk melakukan social distancing (menjaga jarak). Situasi ini tentu membuat kondisi mereka menjadi sulit. Mereka harus memutar otak agar bisa tetap berkesenian dan bisa mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. 

Setiap ada kesulitan, pasti ada jalan keluarnya, asal kita mau berusaha bekerja keras dan tidak berdiam diri saja. Oleh sebab itu para seniman harus mau berpikir kreatif dan inovatif. Misalnya menggunakan internet untuk memanfaatkan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang sudah dimilikinya dengan mengadakan kursus atau pelatihan berbayar secara online.

Selain itu para seniman musik, penyanyi, dan tari yang selama ini sudah terbiasa mentas di panggung, bisa beralih ke dunia maya dengan mengadakan pertunjukan live secara online. Semua ini memang tidak mudah dilakukan, tapi patut dicoba. Misalnya membuat promosi pertunjukan melalui media sosial (medsos). Bagi siapa saja yang berniat menonton pertunjukan, bisa membayar sejumlah uang. Penonton yang sudah melakukan registrasi akan dimasukkan ke dalam sebuah grup medsos yang dibuat secara khusus. Jadi hanya mereka yang sudah bayar yang bisa menonton pertunjukan live tersebut.

Para perupa bisa menggelar pameran lukisan secara online dengan memajang hasil karyanya dalam sebuah situs internet. Mereka juga bisa mengadakan lelang lukisan secara live melalui medsos. Para peserta lelang bisa ikut mendaftar dan menyimpan sejumlah uang sebagai jaminan kepada panitia. Lalu lelang dimulai pada waktu yang telah ditentukan. Peserta lelang yang sudah terdaftar dan masuk dalam sebuah grup khusus di medsos bisa mengikuti proses lelang seperti biasa.       

Konsep berkesenian secara online ini bukan cuma sekadar ide atau isapan jempol semata. Buktinya sudah ada seniman yang melakukannya. Misalnya para seniman Cimahi yang tergabung dalam wadah Dewan Kebudayaan Kota Cimahi (DKKC). Lembaga yang dipimpin oleh Hermana HMT dan menaungi berbagai komunitas di kota Cimahi tersebut mengadakan kegiatan berupa pelatihan seni berbasis online dengan memanfaatkan media sosial seperti Facebook, WhatsApp, dan Youtube.

Selain DKKC, ZenProductions juga menyiasati kondisi wabah virus corona ini dengan berkegiatan melalui online. Sejak awal April 2020, perusahaan yang sering bergerak dalam  berbagai even kesenian ini mengadakan pameran lukisan karya perupa Indonesia melalui media online yaitu Galeri Baraya Seni Rupa Indonesia (GBSRI). Semua karya peserta pameran dipajang di  website www.gbsri.com. Selama ini perusahaan pimpinan Lukma Zen ini melakukan pameran lukisan secara offline diberbagai kota di Indonesia, seperti di Subang, Garut, dan Bandung. 

Sayangnya tidak semua seniman mampu mengatasi masalahnya kehidupannya. Lebih banyak seniman yang terpuruk dan tak berdaya sehingga mereka perlu dibantu oleh pemerintah, baik pemerintah pusat maupun daerah. 

Dalam kondisi sekarang bantuan yang pas tentunya berupa bahan pangan dan uang. Walaupun tidak besar, setidaknya bantuan kepada kalangan seniman dapat meringankan kondisi mereka sehingga bisa berdaya dan berkarya, tidak hanya memikirkan urusan perut semata.

Selain pemerintah, bantuan dari kalangan seniman dan masyarakat pecinta seni yang kehidupannya berkecukupan juga diharapkan kepeduliannya. Misalnya para artis terkenal yang sudah mapan kehidupannya dan para kolektor lukisan yang selama ini sering mengoleksi karya para pelukis.  Apabila kita sama-sama peduli dan saling gotong rayong, maka kesulitan mereka bisa terobati dan mereka akan tetap bersemangat dalam berkarya.

Semoga pandemi corona segera berlalu dan para seniman tetap eksis menghasilkan karya terbaiknya.    


Bagikan :