PUSPENSOS

Pusat Penyuluhan Sosial

Kementerian Sosial Republik Indonesia

BERITA & PENGUMUMAN

Rekonsiliasi dan Pemberdayaan Paska Konflik Di Provinsi Lampung

07/18/16  860

Konflik sosial merupakan salah satu masalah sosial yang tergolong pelik. Pendekatan terhadap masalah sosial satu ini perlu dilakukan dengan sangat hati-hati dan berkelanjutan. Peliknya penanganan akan konflik sosial lebih disebabkan oleh luasnya kemungkinan yang dapat menjadi penyebab terjadinya konflik sosial itu sendiri. Negara pun menilai masalah konflik sosial sebagai masalah bangsa yang perlu perhatian khusus sehingga dibentuklah regulasi tersendiri dalam Undang – Undang Nomor 7 Tahun 2012.

Konflik sosial sebagaimana tercantum dalam Undang – Undang tentang Konflik Sosial tersebut, menimbulkan dampak yang luas, sehingga mengganggu keamanan dan disintegrasi sosial yang berdampak pada stabilitas nasional yang lebih jauh lagi berdampak pada pembangunan nasional. Besarnya dampak dari konflik sosial ini mengharuskan pemerintah untuk melakukan langkah penanganan yang sangat serius dengan melakukan berbagai langkah yang terdiri dari pencegahan, penghentian, sampai pada pemulihan paska konflik. Hampir keseluruhan langkah tersebut di lakukan oleh Kementerian Sosial RI melalui Satuan Kerja Direktorat Perlindungan Sosial Korban Bencana Sosial (PSKBS).

Sebagai salah satu unit pemerintahan, Kementerian Sosial melalui Direktorat PSKBS melakukan penanganan terhadap konflik sosial. Peran yang dilakukan Kementerian Sosial adalah pada ranah pencegahan dan pemulihan paska konflik. Dan sebagai salah satu langkah pemulihan paska konflik, Direktorat PSKBS telah melaksanakan program Rekonsiliasi dan Pemberdayaan Paska Konflik di Provinsi Lampung, tepatnya terjadi di Kabupaten Lampung Utara Kecamatan Bunga Mayang yang melibatkan warga dua desa.

Kegiatan Rekonsiliasi dan Pemberdayaan Paska Konflik di Lampung ini terkait dengan adanya konflik antara dua desa yakni Desa Sukadana Udik dan Desa Sukadana Ilir di Kecamatan Bunga Mayang Kabupaten Lampung Utara. Kerusuhan terjadi pada bulan Februari 2016, dengan kronologi diawali dengan hilangnya salah satu warga dari Desa Sukadana Ilir sejak akhir bulan Januari. Setelah dilakukan pencarian, warga tersebut dapat ditemukan namun naas, warga yang hilang tersebut ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di Desa Sukadana Udik dengan kondisi jasad dibungkus karung di tengah perkebunan tebu. Berdasarkan informasi di lapangan, akibat kejadian itu berkembang isu kelompok, bahwa korban dibunuh oleh warga Sukadana Udik yang notabene mayoritas adalah warga pribumi. Sehingga, warga yang ditengarai berasal dari Desa Sukadana Ilir yang mayoritas penduduknya merupakan warga pendatang, melakukan penyerangan ke Desa Sukadana Udik. Polisi mengevakuasi jasad korban ke Rumah Sakit Umum Ryacudu Kotabumi. Jenazah kemudian menjalani autopsi di Rumah Sakit Umum Abdulmuluk Bandar Lampung untuk mengetahui penyebab kematiannya.

Konflik sosial penyerangan antar warga ini mengakibatkan kerusakan yang cukup parah di lingkungan Kecamatan Bunga Mayang sebanyak 25 rumah rusak parah sebab dibakar oleh warga. Kondisi ini menimbulkan kecemasan dan trauma di antara warga sekitar lokasi. Tindakan penghentian dengan cepat dilakukan oleh aparat dari Polda Lampung dan TNI setempat. Konflik sosial yang terjadi menyisakan kesedihan yang mendalam antara dua pihak baik dari Desa Sukdana Ilir maupun Desa Sukadana Udik. Dan perlu adanya pemulihan akan hubungan antara dua desa tersebut, baik secara individu maupun komunitas. Berdasarkan kondisi tersebut, dilakukanlah rekonsiliasi konflik antara kedua desa dengan tujuan memunculkan kembali rasa persaudaraan, kesatuan, dan kebersamaan sebagai satu bangsa yakni bangsa Indonesia.

Kegiatan rekonsiliasi dan pemberdayaan paska konflik di Lampung ini, terdiri dari rangkaian acara yang dilaksanakan selama 4 (empat) hari. Acaranya antara lain penanaman pemahaman akan pentingnya komunikasi dalam kehidupan bermasyarakat, memahami kondisi individu masyarakat, upaya dari Polri dan TNI terkait penanganan konflik yang terjadi, sampai pada pendampingan akan bantuan rekonsiliasi dan pemberdayaan paska konflik. Selain itu yang utama adalah adanya partisipatif learning melibatkan seluruh peserta, sehingga secara fisik langsung membaurkan peserta baik secara individu maupun kelompok. Pembelajaran ini dilaksanakan dengan pembentukan kelompok dengan melakukan FGD, team building, diselingi dengan permainan-permaian yang memiliki makna untuk mempererat kebersamaan antar peserta sebagai upaya menyatukan kembali ikatan silaturahmi yang dulu pernah terbangun.

Diakhir acara, adanya kesepakatan antar peserta akan komitmen dalam menciptakan perdamaian dan ketentraman di lingkungannya dan untuk memperkuat dalam pengendalian diri terhadap tiap gesekan yang pasti selalu terjadi dalam kehidupan bermasyarakat. Dan sebagai media untuk merekatkan masyarakat di lapangan, bantuan juga diberikan dalam bentuk dana untuk dikelola oleh masyarakat secara bersama-sama dan tentunya untuk kepentingan bersama. Dana yang diberikan sebagai bantuan ini secara teknis dikelola oleh masyarakat untuk kepentingan bersama, dalam rangka merekatkan kembali tali silaturahmi yang sempat renggang akibat konflik yang telah terjadi. Dan sebagai upaya pendampingan pengelolaan bantuan, Kementerian Sosial pun memberikan edukasi bagi warga bagaimana melakukan kegiatan bersama secara partisipatif sehingga seluruh pihak terlibat dan memiliki andil tersendiri. Selain itu teknik pengembangan masyarakat seperti teknik Participatory Rural Appraisal (PRA) pun diajarkan untuk menambah wawasan warga sehingga dapat menumbuhkan nilai-nilai pemberdayaan selain dari pada rekonsiliasi terhadap konflik.

Oleh :

M. Ajie Tori F. –  PSKBS

Oleh : Kemsos

Berita Terpopuler

Pengembangan Kapasitas Tenaga Penyelenggara Penyuluhan Sosial

25/3/2013 14

Oleh : Early FebrianaSebagai bagian dari  upaya meningkatkan etos kerja, dedikasi dan kualitas Sumber Daya Manusia penyuluhan sosial, Pusat Penyuluhan Sosial  mengadakan kegiatan Pengembangan Tenaga Penyelenggara Penyuluhan Sosial di Rumah Jambu Luwuk, Bogor. Sebanyak 53 orang yang terdiri dari pegawai di lingkungan Pusat Penyuluhan Sosial dan tenaga penyuluh sosial fungsional yang ada d...

Oleh : Kemsos

Lihat Selengkapnya

Bangkitkan Semangat Anggota Karang Taruna Indonesia

20/5/2014 11

Bangkitkan Semangat Anggota Karang Taruna Indonesia “Persepsi Yang Keliru Tentang Karang Taruna” Oleh : Ferdiyan Pratama, S.ST Pernah mengamati fonemen seperti ini. Setiap menjelang peringatan 17 Agustus, pemuda-pemudi di suatu desa atau kelurahan pasti menyibukan diri dalam kegiatan-kegiatan menyambut hari proklamasi Indonesia. Semua unsur pemuda-pemudi menjadi pelopor m...

Oleh : Kemsos

Lihat Selengkapnya

Mengaktifkan Karang Taruna yang Mati Suri

3/7/2014 09:

Setiap desa/kelurahan hampir pasti memiliki organisasi kepemudaan karang taruna. Wadah yang menggalang inspirasi pemuda ini merupakan arena  pemuda-pemuda untuk berkreasi menjadi motor penggerak masyarakat. Perlu kita sadari bahwa setiap desa/kelurahan memiliki Pemuda-pemuda yang memiliki potensi besar untuk mengembangkan dirinya sendiri dan masyarakat. Banyak pemuda-pemuda yang memiliki po...

Oleh : Kemsos

Lihat Selengkapnya

Link Lainnya