PUSPENSOS

Pusat Penyuluhan Sosial

Kementerian Sosial Republik Indonesia

BERITA & PENGUMUMAN

Mencegah Bunuh Diri

09/08/2017  68

Bagi sebagian orang bunuh diri adalah jalan keluar untuk menyelesaikan persoalan hidupnya. Kasus bunuh diri terjadi diberbagai daerah di Indonesia. Menurut data dari Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization) tahun 2016 tercatat di dunia ada 800 ribu orang bunuh diri setiap tahun.

Bunuh diri di sejumlah negara merupakan penyebab kematian nomor dua pada penduduk usia 15-29 tahun. Angka bunuh diri yang tertinggi (ranking ke-1) diduduki oleh Korea Selatan yaitu 36,8 dari 100 ribu penduduk. Sedangkan angka bunuh diri di Indonesia adalah 3,7 per 100 ribu penduduk. Dengan jumlah penduduk sebanyak 258 juta jiwa, angka 3,7 per 100 ribu penduduk berarti ada 10 ribu kasus bunuh diri di Indonesia tiap tahun atau satu orang per jam.

Pelaku bunuh diri tidak mengenal batasan usia. Bunuh diri dilakukan dari usia anak-anak hingga lanjut usia, dari kalangan perempuan maupun laki-laki, dan dari kalangan ekonomi miskin, ekonomi menengah dan ekonomi kaya. Pelaku bunuh diri menggunakan beragam cara dalam mengakhiri hidupnya yaitu: gantung diri, meloncat dari tempat tinggi (gedung bertingkat, menara, tebing), menembak kepala dengan pistol, minum racun, menyayat pergelangan tangan.

Alasan orang melakukan bunuh diri, antara lain, karena tidak kuat menahan sakit yang dideritanya, stres, ditinggal istri atau suami, mendapat nilai buruk, terjerat utang, tidak kuat menanggung malu, mengalami gangguan jiwa.

Bunuh diri merupakan persoalan serius yang perlu mendapat penanganan dengan sangat serius. Upaya penanganan bunuh diri – dalam arti mencegah atau mengurangi agar tidak muncul kasus bunuh diri – harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dan menyeluruh. Negara harus hadir secara nyata dalam upaya penanggulangan kasus bunuh diri.

Hal penting yang dapat dilakukan negara, antara lain, melakukan tindakan pencegahan. Caranya, negara harus menghilangkan faktor-faktor yang dapat memicu timbulnya tindakan bunuh diri.

Faktor pencetus bunuh diri antara lain seperti stres, gangguan mental, dan beban pikiran yang berlebihan yang dialami seseorang harus dicarikan jalan keluar. Untuk itu negara harus menyediakan layanan kesehatan jiwa sampai pada level terbawah di masyarakat. Negara harus menyediakan tenaga-tenaga konsultasi kesehatan jiwa di tingkat pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas).

Selain itu negara harus mendorong masyarakat untuk membentuk komunitas peduli penanggulangan bunuh diri. Komunitas ini dapat dibentuk dengan memberdayakan secara aktif para Ketua Rukun Tetangga (RT) dan Ketua Rukun Warga (RW). Negara juga perlu menyediakan fasilitas atau sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk pencegahan bunuh diri, seperti menyediakan obat-obatan, tenaga medis, tempat-tempat pertemuan untuk  konsultasi – diskusi dan lain-lain.

Yang tak kalah penting adalah memberdayakan peran tokoh masyarakat dan tokoh agama. Para tokoh ini perlu mendapat pengetahuan, pelatihan tentang persoalan bunuh diri, cara mencegahnya, dan membangkitkan harapan orang-orang yang sudah mulai berputus asa.

Bunuh diri merupakan persoalan komplek yang harus ditangani secara menyeluruh dan terintegratif. Bunuh diri bisa hadir kapan saja, di mana saja, dan dilakukan oleh siapa saja, dengan alasan yang sangat serius atau alasan yang sangat sepele. Mari peduli pencegahan bunuh diri agar hak hidup yang sangat berharga tak tercabut sia-sia.

 Oleh : Rusman Widodo

*Penyuluh HAM Komnas HAM.

Oleh : Kemsos

Berita Terpopuler

Pengembangan Kapasitas Tenaga Penyelenggara Penyuluhan Sosial

25/3/2013 14

Oleh : Early FebrianaSebagai bagian dari  upaya meningkatkan etos kerja, dedikasi dan kualitas Sumber Daya Manusia penyuluhan sosial, Pusat Penyuluhan Sosial  mengadakan kegiatan Pengembangan Tenaga Penyelenggara Penyuluhan Sosial di Rumah Jambu Luwuk, Bogor. Sebanyak 53 orang yang terdiri dari pegawai di lingkungan Pusat Penyuluhan Sosial dan tenaga penyuluh sosial fungsional yang ada d...

Oleh : Kemsos

Lihat Selengkapnya

Mengaktifkan Karang Taruna yang Mati Suri

3/7/2014 09:

Setiap desa/kelurahan hampir pasti memiliki organisasi kepemudaan karang taruna. Wadah yang menggalang inspirasi pemuda ini merupakan arena  pemuda-pemuda untuk berkreasi menjadi motor penggerak masyarakat. Perlu kita sadari bahwa setiap desa/kelurahan memiliki Pemuda-pemuda yang memiliki potensi besar untuk mengembangkan dirinya sendiri dan masyarakat. Banyak pemuda-pemuda yang memiliki po...

Oleh : Kemsos

Lihat Selengkapnya

Bangkitkan Semangat Anggota Karang Taruna Indonesia

20/5/2014 11

Bangkitkan Semangat Anggota Karang Taruna Indonesia “Persepsi Yang Keliru Tentang Karang Taruna” Oleh : Ferdiyan Pratama, S.ST Pernah mengamati fonemen seperti ini. Setiap menjelang peringatan 17 Agustus, pemuda-pemudi di suatu desa atau kelurahan pasti menyibukan diri dalam kegiatan-kegiatan menyambut hari proklamasi Indonesia. Semua unsur pemuda-pemudi menjadi pelopor m...

Oleh : Kemsos

Lihat Selengkapnya

Link Lainnya