PUSPENSOS

Pusat Penyuluhan Sosial

Kementerian Sosial Republik Indonesia

BERITA & PENGUMUMAN

Nilai Dan Etika Pekerjaan Sosial

09/11/2017  334

Pekerjaan sosial adalah profesi yang berlandaskan nilai-nilai, yang memadukan antara apa yang harus dilakukan dan bagaimana cara atau hal itu dilakukan. Dimensi nilai dan etika dapat dijumpai hampir pada setiap aspek pekerjaan sosial. Menurut Reamer (1990), dalam Dubois & Miley (2005), beberapa tahun lewat fokus nilai-nilai pekerjaan sosial telah bergeser dari masalah moralitas individual klien menjadi moralitas perilaku profesional.

Sarah Banks membatasi nilai pada tipe-tipe kepercayaan orang yang dianggap sebagai sesuatu yang tinggi dan berharga. Sementara pengertian nilai-nilai pekerjaan sosial (social work values) mengarah ke pengertian yang lebih luas yakni apa yang dianggap tinggi dan berharga dalam konteks pekerjaan sosial yaitu keyakinan umum tentang masyarakat yang baik, prinsip-prinsip tentang bagaimana mencapai keseluruhan tindakan dan kualitas yang didambakan atau karakter dari praktisi profesional.

Pada prinsipnya sumber nilai pekerjaan sosial dapat dikelompokan dalam empat golongan yaitu :

1.  Nilai masyarakat

Profesi pekerjaan sosial diberi misi/kepercayaan untuk melaksanakan sebagian dari fungsi  masyarakat. Oleh karena itu, praktik pekerjaan sosial akan selalu dipengaruhi nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat.

2.  Kode etik

      Kode etik pada prinsipnya mengatur hal-hal yang berkaitan dengan proses pertolongan pekerjaan sosial, dengan komponen-komponen yang ada dalam proses pertolongan itu sendiri agar terhindar dari kesalahan/penyimpangan praktik (malpractice). Komponen-komponen yang dimaksud meliputi :

a.       Pekerja sosial

b.       Klien

c.       Teman seprofesi/sejawat

d.       Badan sosial tempat pekerja sosial bekerja

e.       Profesi pekerjaan sosial

f.        Masyarakat tempat proses pertolongan diberikan

3.  Tujuan lembaga

      Pekerja sosial mempunyai tanggung jawab untuk menaati peraturan-peraturan lembaga dimana ia bekerja. Dengan demikian nilai yang diyakini pekerja sosial juga dipengaruhi dan dibentuk oleh lembaga tersebut.

4.  Teori atau pengetahuan

      Teori pekerjaan sosial juga mengandung unsur-unsur nilai yang dapat dijadikan sumber bagi pembentukan kerangka nilai pekerja sosial. Nilai yang dimaksud dapat dikelompokan menjadi :

a.       Nilai tentang konsepsi orang

b.       Nilai tentang masyarakat

c.       Nilai yang berkaitan dengan interaksi antar orang

Menurut William Gordon (dalam Soetarso, 1995), nilai-nilai pekerjaan sosial secara umum dibagi menjadi dua, yakni nilai utama dan nilai dasar. Nilai-nilai utama tersebut yaitu :

1.       Masyarakat bertanggung jawab menjamin warganya mengakses sumber-sumber, pelayanan dan kesempatan yang dibutuhkan dalam rangka menjalankan tugas kehidupan, menghilangkan ketelantaran, serta mewujudkan aspirasi dan nilai tertentu

2.       Dalam menyediakan akses terhadap sumber-sumber kemasyarakatan, harkat, dan martabat setiap individu harus dihargai

Sementara nilai-nilai dasar yang banyak bersumber dari kedua nilai diatas diantaranya adalah :

1.       Setiap Setiap pekerja sosial harus menghormati kliennya

2.       Meningkatkan kemampuan klien untuk mengambil keputusan

3.       Menghindari sikap menilai baik atau buruk terhadap klien

4.       Menjamin kerahasiaan klien

5.       Jujur dalam menghadapi klien

Menurut Dubois dan Miley, dengan nilai-nilai ini dapat diraih tujuan pekerjaan sosial diantaranya adalah untuk :

1.       Mencapai eksistensi manusia yang baik dan memberantas kemiskinan, penindasan, dan bentuk-bentuk lain ketidakadilan sosial

2.       Mencapai keberfungsian sosial dan interaksi antar individu, keluarga, kelompok, dan komunitas dengan cara melibatkan mereka dalam mencapai tujuan, membangun sistem sumber, serta mencegah dan mengentaskan keputusasaan

3.       Memfurmulasikan dan mengimplementasikan kebijakan, pelayanan, dan program sosial untuk memenuhi kebutuhan dasar dan mendukung perkembangan kapasitas manusia

4.       Mengejar kebijakan, pelayanan, dan sumber daya melalui advokasi dan aksi sosial atau politik yang mendambakan keadilan sosial dan ekonomi

5.       Membangun dan menggunakan penelitian, pegetahuan, dan keterampilan yang berusaha memajukan praktik pekerjaan sosial

6.       Membangun dan menerapkan praktik dalam konteks multikultur

Menurut Barker (2003) etika adalah Suatu sistem prinsip dan persepsi moral tentang benar atau salah dan filosofi tentang tingkah laku yang dipraktikkan oleh individu, kelompok, profesi, atau budaya tertentu. Nilai tidak sama dengan Etika, tetapi keduanya berhubungan erat. Etika dirumuskan dari nilai dan harus selaras dengan nilai. Beda keduanya adalah bahwa nilai terkait dengan apa yang baik dan didambakan, sementara etika berhubungan dengan apa yang baik dan benar (dalam Loewenberg). Jadi nilai berkaitan dengan beliefs (kepercayaan/ keyakinan) yang tepat. Etika terkait dengan apa yang mesti dilakukan dengan beliefs tersebut dan bagaimana menerapkannya.

 

Sumber : Bahan Ajar Pelatihan Dasar Pekerjaan Sosial (PDPS) di BBPPKS Regional I Sumatera,  Februari 2017

 

Oleh:     Rizal Tristo, S.Si

                (Penyuluh Sosial Pertama Kab. Musi Rawas Utara – Sumatera Selatan)

Oleh : Kemsos

Berita Terpopuler

Pengembangan Kapasitas Tenaga Penyelenggara Penyuluhan Sosial

25/3/2013 14

Oleh : Early FebrianaSebagai bagian dari  upaya meningkatkan etos kerja, dedikasi dan kualitas Sumber Daya Manusia penyuluhan sosial, Pusat Penyuluhan Sosial  mengadakan kegiatan Pengembangan Tenaga Penyelenggara Penyuluhan Sosial di Rumah Jambu Luwuk, Bogor. Sebanyak 53 orang yang terdiri dari pegawai di lingkungan Pusat Penyuluhan Sosial dan tenaga penyuluh sosial fungsional yang ada d...

Oleh : Kemsos

Lihat Selengkapnya

Mengaktifkan Karang Taruna yang Mati Suri

3/7/2014 09:

Setiap desa/kelurahan hampir pasti memiliki organisasi kepemudaan karang taruna. Wadah yang menggalang inspirasi pemuda ini merupakan arena  pemuda-pemuda untuk berkreasi menjadi motor penggerak masyarakat. Perlu kita sadari bahwa setiap desa/kelurahan memiliki Pemuda-pemuda yang memiliki potensi besar untuk mengembangkan dirinya sendiri dan masyarakat. Banyak pemuda-pemuda yang memiliki po...

Oleh : Kemsos

Lihat Selengkapnya

Bangkitkan Semangat Anggota Karang Taruna Indonesia

20/5/2014 11

Bangkitkan Semangat Anggota Karang Taruna Indonesia “Persepsi Yang Keliru Tentang Karang Taruna” Oleh : Ferdiyan Pratama, S.ST Pernah mengamati fonemen seperti ini. Setiap menjelang peringatan 17 Agustus, pemuda-pemudi di suatu desa atau kelurahan pasti menyibukan diri dalam kegiatan-kegiatan menyambut hari proklamasi Indonesia. Semua unsur pemuda-pemudi menjadi pelopor m...

Oleh : Kemsos

Lihat Selengkapnya

Link Lainnya