PUSPENSOS

Pusat Penyuluhan Sosial

Kementerian Sosial Republik Indonesia

BERITA & PENGUMUMAN

Solusi Mengatasi Fenomena Anak Jalanan Di Kota Bengkulu

12/11/17  75

Di kota-kota besar, permasalahan anak jalanan bukanlah subjek asing lagi untuk kita lihat. Anak-anak jalanan sering berbaur dengan para pengamen, pengemis dan unsur-unsur jalan raya lainnya. Anak-anak jalanan menjadi satu fenomena yang menyedihkan apabila para oknumnya melakukan beberapa kali tindakan yang memunculkan keresahan sosial di tengah masyarakat. Di Kota Bengkulu, anak jalanan sering berkeliaran di jalanan atau simpang lampu merah. Seperti yang terlihat pada Simpang Padang Harapan, Simpang Sekip, dan Simpang Lima. Kehadiran anak jalanan ini di tempat tersebut kerap kali menganggu para pengguna jalan. 

Anak-anak jalanan memilih lingkungan hidup di jalanan terkadang bukan hanya faktor kondisi kesulitan ekonomi, namun karena mereka juga menikmati kondisi lingkungan di jalanan. Anak-anak jalanan tak selalu tidak punya tempat tinggal, anak-anak yang merasa stres dengan kondisi keluarga dan lingkungan rumahnya terkadang merasa lebih nyaman memilih jalanan sebagai lingkungan hidupnya. Di lingkungan hidupnya, anak jalanan melakukan banyak aktivitas seperti mengamen, mengemis, berjoget-joget dan lainnya. 

Faktor-faktor yang menyebabkan seorang anak menjadi “anak jalanan” antara lain dikarenakan oleh faktor lingkungan, faktor kemiskinan, dan kekerasan di dalam keluarga. Lingkungan para anak jalanan begitu keras tak jarang kehidupan di lingkungan mereka banyak yang melakukan tindakan yang melanggar norma masyarakat dan melanggar hukum. Perbuatan itu seperti mabuk-mabukan, bermain perempuan, mencopet, jambret dan masih banyak lagi. Kesejahteraan secara materi anak jalanan juga dibilang masih kurang dari cukup, kalau kondisi ekonomi mereka cukup tidak mungkin juga anak-anak itu turun ke jalan untuk bekerja. 

Faktor kemiskinan yang menyebabkan seorang anak untuk turun ke jalan untuk mencari penghasilan yang tidak seberapa demi memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Seharusnya dengan umur mereka yang masih dibawah umur 16 tahun mereka selayaknya mendapatkan pendidikan yang mumpuni untuk bekal kehidupan nanti. Para anak jalanan tidak jarang juga yang mengalami kekerasan di dalam keluarganya. Terkadang mereka dipaksa oleh orang tuanya untuk bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan keluarganya dan terkadang mereka dengan hal itu mencari pelarian yang kurang baik, yang tak sepatutnya dilakukan oleh anak dibawah umur 16 tahun. 

Mengatasi persoalan anak jalanan merupakan tanggung jawab semua pihak yaitu masyarakat dan pemerintah. Untuk saat ini aturan yang diberikan oleh pemerintah adalah melarang anak-anak jalanan untuk beroperasi di jalan-jalan protokol. Selain itu, langkah alternatif yang dapat dilakukan untuk mengatasi dampak-dampak negatif atas keberadaan anak jalanan yaitu melakukan upaya pembinaan anak jalanan baik oleh pemerintah maupun pihak swasta. 

Pemerintah perlu melakukan upaya pembinaan terhadap anak jalanan. Anak jalanan jangan hanya dimanfaatkan oleh beberapa kelompok untuk kepentingan politik, lebih dari itu anak jalanan merupakan permasalahan sosial yang menjadi tanggung jawab bersama untuk diselesaikan. Jika pemerintah kerepotan, pemerintah bisa menawarkan kepada pihak swasta untuk melakukan pemberdayaan terhadap anak-anak jalanan melalui pembentukan yayasan-yayasan pengelola anak jalanan. 

Langkah alternatif berikutnya yaitu mendidik jiwa anak-anak jalanan menjadi jiwa pewirausaha. Salah satu pelatihan dan pembinaan yang cukup baik dilakukan untuk anak-anak jalanan adalah dengan cara berbisnis kecil-kecilan. Memanfaatkan waktu dengan berusaha membangun usaha bisnis mini bagi para anak jalanan akan membantu anak jalanan meninggalkan hal-hal negatif di jalanan dan juga akan membantu perekonomian anak-anak jalanan. Langkah-Langkah ini tentu saja diharapkan mampu untuk menekan jumlah anak jalanan di Propinsi Bengkulu khususnya di Kota Bengkulu. 

Oleh : Hanni Susanty, S.Pd Penyuluh Sosial Pertama Dinas Sosial Propinsi Bengkulu

Oleh : Kemsos

Berita Terpopuler

Pengembangan Kapasitas Tenaga Penyelenggara Penyuluhan Sosial

25/3/2013 14

Oleh : Early FebrianaSebagai bagian dari  upaya meningkatkan etos kerja, dedikasi dan kualitas Sumber Daya Manusia penyuluhan sosial, Pusat Penyuluhan Sosial  mengadakan kegiatan Pengembangan Tenaga Penyelenggara Penyuluhan Sosial di Rumah Jambu Luwuk, Bogor. Sebanyak 53 orang yang terdiri dari pegawai di lingkungan Pusat Penyuluhan Sosial dan tenaga penyuluh sosial fungsional yang ada d...

Oleh : Kemsos

Lihat Selengkapnya

Mengaktifkan Karang Taruna yang Mati Suri

3/7/2014 09:

Setiap desa/kelurahan hampir pasti memiliki organisasi kepemudaan karang taruna. Wadah yang menggalang inspirasi pemuda ini merupakan arena  pemuda-pemuda untuk berkreasi menjadi motor penggerak masyarakat. Perlu kita sadari bahwa setiap desa/kelurahan memiliki Pemuda-pemuda yang memiliki potensi besar untuk mengembangkan dirinya sendiri dan masyarakat. Banyak pemuda-pemuda yang memiliki po...

Oleh : Kemsos

Lihat Selengkapnya

Bangkitkan Semangat Anggota Karang Taruna Indonesia

20/5/2014 11

Bangkitkan Semangat Anggota Karang Taruna Indonesia “Persepsi Yang Keliru Tentang Karang Taruna” Oleh : Ferdiyan Pratama, S.ST Pernah mengamati fonemen seperti ini. Setiap menjelang peringatan 17 Agustus, pemuda-pemudi di suatu desa atau kelurahan pasti menyibukan diri dalam kegiatan-kegiatan menyambut hari proklamasi Indonesia. Semua unsur pemuda-pemudi menjadi pelopor m...

Oleh : Kemsos

Lihat Selengkapnya

Link Lainnya