PUSPENSOS

Pusat Penyuluhan Sosial

Kementerian Sosial Republik Indonesia

BERITA & PENGUMUMAN

Stres pada Anak

01/21/19  73

            Stres tidak hanya dialami oleh orang dewasa, melainkan juga dapat dialami anak-anak. Stres pada dasarnya merupakan reaksi wajar manusia ketika terjadi sesuatu dalam lingkungan yang berbahaya atau sulit, dan membuat manusia tersebut merasa terancam.  Stres itu sendiri merupakan pengalaman emosi negatif yang disertai dengan perubahan biokimia otak, kondisi fisik, pikiran dan perilaku. Penyebab stress pada anak cukup beragam, diantaranya yaitu anak yang sering diejek, dikucilkan, terlalu sering  dikritik, beban tugas pelajaran dan persaingan di sekolah, takut pada guru, kurang perhartian, sering melihat orang tua bertengkar, tidak mampu menyesuaikan diri di lingkungan baru, dan lain sebagainya


Orang tua, guru, maupun orang dewasa lain yang  ada dalam keseharian anak dapat mengenali terjadinya stres, dengan memperhatikan perubahan-perubahan pada hal-hal sebagai berikut dalam keseharian:

1.    Aspek fisik: mual, sakit perut, pusing, diare, sulit makan, sulit tidur atau terlalu banyak tidur, mimpi buruk, dan lain sebagainya

2.    Aspe kognitif: Sulit konsentrasi, mudah lupa, dan lain sebagainya

3.    Aspek emosi: mudah takut, mudah terkejut, mudah rewel, mudah tersinggung, menuntut perhatian lebih, malas bersekolah maupun malas melakukan kegiatan yang biasanya disukai, dan lain sebagainya

4.    Aspek perilaku: Sering menggigit kuku, menarik diri dari kegiatan harian, melamun, berperilaku agresif, menentang, dan lain sebagainya

Gejala stres yang dialami tidak sama pada anak satu dengan yang lain. Apabila orang tua menemui gejala-gejala di atas, anak perlu dibantu agar stres dapat hilang atau menurun. Stres pada anak jika tidak diatasi dapat mengakibatkan penurunan pada prestasi belajar, kepercayaan diri, kemampuan sosialisasi, serta jika terjadi dalam taraf yang berat dapat menyebabkan terjadinya gangguan kecemasan ataupun depresi.

Tindakan yang dapat dilakukan oleh orang tua diantaranya dengan memberi perhatian,  mendengarkan keluh kesah anak, serta membangun interaksi yang hangat dengan anak. Anak perlu diyakinkan bahwa orang tua ada dan bersedia membantu. Anak dapat dibantu mencari alternatif pemecahan masalah, serta diberi contoh bagaimana menyikapi permasalahan dengan baik. Orang tua juga sebaiknya tidak menetapkan target atau tuntutan yang terlalu tinggi, dan tidak sesuai dengan kemampuan anak.  Anak perlu didorong untuk berani menyampaikan isi hati dan pikirannya apabila diperlakukan tidak baik oleh teman. Berkomunikasi dan meminta peran serta  guru jika sumber stres terjadi sekolah juga merupakan hal yang penting untuk dilakukan agar anak merasa terlindungi. Apabila kondisi stres berlangsung lama hingga hitungan lebih dari 2 minggu, sebaiknya orang tua berkonsultasi dengan tenaga profesional seperti psikolog atau psikiater untuk  mengetahui penanganan secara lebih spesifik.

 

 

 

 

Intan Kusuma Wardhani, M.Psi, Psikolog

 

 

 

Oleh : Kemsos

Berita Terpopuler

Pengembangan Kapasitas Tenaga Penyelenggara Penyuluhan Sosial

25/3/2013 14

Oleh : Early FebrianaSebagai bagian dari  upaya meningkatkan etos kerja, dedikasi dan kualitas Sumber Daya Manusia penyuluhan sosial, Pusat Penyuluhan Sosial  mengadakan kegiatan Pengembangan Tenaga Penyelenggara Penyuluhan Sosial di Rumah Jambu Luwuk, Bogor. Sebanyak 53 orang yang terdiri dari pegawai di lingkungan Pusat Penyuluhan Sosial dan tenaga penyuluh sosial fungsional yang ada d...

Oleh : Kemsos

Lihat Selengkapnya

Mengaktifkan Karang Taruna yang Mati Suri

3/7/2014 09:

Setiap desa/kelurahan hampir pasti memiliki organisasi kepemudaan karang taruna. Wadah yang menggalang inspirasi pemuda ini merupakan arena  pemuda-pemuda untuk berkreasi menjadi motor penggerak masyarakat. Perlu kita sadari bahwa setiap desa/kelurahan memiliki Pemuda-pemuda yang memiliki potensi besar untuk mengembangkan dirinya sendiri dan masyarakat. Banyak pemuda-pemuda yang memiliki po...

Oleh : Kemsos

Lihat Selengkapnya

Bangkitkan Semangat Anggota Karang Taruna Indonesia

20/5/2014 11

Bangkitkan Semangat Anggota Karang Taruna Indonesia “Persepsi Yang Keliru Tentang Karang Taruna” Oleh : Ferdiyan Pratama, S.ST Pernah mengamati fonemen seperti ini. Setiap menjelang peringatan 17 Agustus, pemuda-pemudi di suatu desa atau kelurahan pasti menyibukan diri dalam kegiatan-kegiatan menyambut hari proklamasi Indonesia. Semua unsur pemuda-pemudi menjadi pelopor m...

Oleh : Kemsos

Lihat Selengkapnya

Link Lainnya