PUSPENSOS

Pusat Penyuluhan Sosial

Kementerian Sosial Republik Indonesia

BERITA & PENGUMUMAN

Persoalan Ketahanan Pangan Dan Ketahanan Sosial

07/19/2019  58

Salah satu persoalan besar bangsa di masa depan adalah bagaimanan menyediakan pangan yang cukup bagi perut semua warga. Salah satu indikator kesanggupan member makan bisa ditilik dari indeks luas panen per kapita . Di Asia Tenggara , indeks luasan panen per kapita Indonesia termasuk kecil, hanya 531 meter persegi per kapita, setara Filipina (516) dan Malaysia (315). Filipina dan Malaysia adalah pengimpor pangan reguler (Khudori, 2011).  Negara-negar pengekspor  pangan memiliki indeks luasan panen perkapita  cukup besar: Vietnam 929 meter persegi/kapita, Myanmar  1.285 meter persegi/kapita, dan Thailand 1.606 meter persegi/kapita. Memang indeks ini bukan satu-satunya penentu  besarnya produksi. Luasan panen dapat dikompensasikan dengan produktifitas tinggi.

Masalah kelaparan dan kemiskinan merupakan fenomena global yang telah lama. Pada Konfrensi  Tingkat Tinggi Pangan di Roma tahun 1996, para pemimpin dunia bertekad mengurangi kelaparan dari 840 juta orang menjadi  400 juta orang sampai 2015 (Kaman Nainggolan, 2006). Kelaparan terjadi karena keterbatasan akses pangan. Satu orang anak mati setiap lima detik sebagai akibat kelaparan dan kurang gizi. Kerawanan pangan dan kelaparan sering terjadi pada petani skala kecil, nelayan dan masyarakat sekitar hutan yang menggantungkan hidupnya pada sumber daya alam yang dan terdegradasi. Kerawanan pangan juga terjadi  pada masyarakat miskin perkotaan, utamanya kaum buruh. Kelompok-kelompok ini tidak cukup akses terhadap pengetahuan dan teknologi, akses fisik terhadap sarana produksi dan pasar. Berbagai persoalan itu muncul akibat masalah paling fundamental, yaitu disharmoni . Organisasi Perdagangan Dunia  (WTO) yang semula dimaksudkan menjaga harmoni perdagangan global, justru cenderung  menciptakan ketimpangan dan pemiskinan di negara-negara berkembang dengan segala intrumen yang memenangkan negara maju.

WTO adalah organisasi multirateral negara-negara yang mengatur jalannya perdagangan bebas dunia. Perdagangan bebas artinya arus barang dan jasa bebas melewati batas-batas Negara tanpa dihambat oleh campur tangan pemerintah, baik dalam tarif maupun nontarif. Konsep ini didasarkan pada teori Liberal Klasik yang menyatakan perdagangan dapat dilakukan  paling baik, sumber daya dapat dialokasikan  paling efisien, dan kesejahteraan masyarakat dicapai paling tinggi apabila semua produsen dibiarkan menghasilkan barang atau jasa terabaik yang dapat mereka produksi untuk kemudian dijual dalam iklim persaingan bebas  terbuka. Di tingkat local ada pembagian kerja, sedangkan di tingkat internasional setiap negara harus terkonsentrasi menghasilakan produk-produk yang bisa dihasilakan secara efisien (Deliarnov, 2006).

Tujuan utama WTO pada awalnya adalah untuk menaikkan standar hidup dan menjamin peningkatan lapangan kerja  dengan memperluas produksi dan perdagangan melalui eksploitasi sumber daya alam dunia secara rasional dan sadar lingkungan . Dalam perjalanannya, tujuan awal ini semakin redup dan misinya diganti dengan” mantra” baru yang disebut pasar bebas. Misi baru ini adalah bagian dari Konsensus Washington, yaitu persekongkolan antara IMF, Bank Dunia, dan Departemen  Keungan  Amerika Serikat yang menginginkan semua negara membuka diri  bagi masuknya barang, jasa, modal , dan SDM sehingga tercipta perekonomian dunia tanpa batas. Gejala-gejala yang memperlihatkan semakin terintegrasinya Negara-negara dan penduduk dunia yang disebabkan oleh berkurangnya sekat-sekat dan halangan artifial bagi aliran barang, jasa, modal, pengetahuan, dan SDM dari satu Negara ke Negara lain ini yang disebut globalisasi. Aspek paling penting dari globalisasi ekonomi adalah semakin dikuranginya sekat-sekat dan hambatan ekonomi antar Negara, semakin menyebarnya perdagangan, financial, dan aktifitas produksi secara internasional, dan dalam proses ini semakin tumbuhnya kekeuatan Trans National Corporations (TNCs), dan intitusi-institusi financial internasional. Dari ketiga aspek liberalisasi (financial, perdagangan, dan investasi), yang paling cepat perkembangannya adalah proses liberasasi financial.

Oleh : B. Pudjianto

 

Oleh : Kemsos

Berita Terpopuler

Pengembangan Kapasitas Tenaga Penyelenggara Penyuluhan Sosial

25/3/2013 14

Oleh : Early FebrianaSebagai bagian dari  upaya meningkatkan etos kerja, dedikasi dan kualitas Sumber Daya Manusia penyuluhan sosial, Pusat Penyuluhan Sosial  mengadakan kegiatan Pengembangan Tenaga Penyelenggara Penyuluhan Sosial di Rumah Jambu Luwuk, Bogor. Sebanyak 53 orang yang terdiri dari pegawai di lingkungan Pusat Penyuluhan Sosial dan tenaga penyuluh sosial fungsional yang ada d...

Oleh : Kemsos

Lihat Selengkapnya

Bangkitkan Semangat Anggota Karang Taruna Indonesia

20/5/2014 11

Bangkitkan Semangat Anggota Karang Taruna Indonesia “Persepsi Yang Keliru Tentang Karang Taruna” Oleh : Ferdiyan Pratama, S.ST Pernah mengamati fonemen seperti ini. Setiap menjelang peringatan 17 Agustus, pemuda-pemudi di suatu desa atau kelurahan pasti menyibukan diri dalam kegiatan-kegiatan menyambut hari proklamasi Indonesia. Semua unsur pemuda-pemudi menjadi pelopor m...

Oleh : Kemsos

Lihat Selengkapnya

Mengaktifkan Karang Taruna yang Mati Suri

3/7/2014 09:

Setiap desa/kelurahan hampir pasti memiliki organisasi kepemudaan karang taruna. Wadah yang menggalang inspirasi pemuda ini merupakan arena  pemuda-pemuda untuk berkreasi menjadi motor penggerak masyarakat. Perlu kita sadari bahwa setiap desa/kelurahan memiliki Pemuda-pemuda yang memiliki potensi besar untuk mengembangkan dirinya sendiri dan masyarakat. Banyak pemuda-pemuda yang memiliki po...

Oleh : Kemsos

Lihat Selengkapnya

Link Lainnya