PUSPENSOS

Pusat Penyuluhan Sosial

Kementerian Sosial Republik Indonesia

 

News & Announcements

Menyikapi Korban Kekerasan Seksual Pada Anak

02/11/19

Saat orang tua mendapati anaknya mengalami pelecehan seksual , respon awal yang muncul beraneka ragam. Beberapa diantaranya justru memarahi anak-anak mereka yang menjadi korban, terutama jika si anak dianggap sudah cukup besar untuk bisa menjaga dirinya sendiri. Respon yang lain adalah saling menyalahkan antara ibu dan ayah. Pada sisi ayah, muncul respon yang khas yaitu perilaku menyerang pelaku baik secara fisik maupun verbal sebagai bentuk kemarahan. Perilaku main hakim sendiri tak jarang kemudian muncul. Sebagian orang tua kemudian memutuskan untuk membatasi ruang gerak anak-anak mereka dan menjadi sangat waspada. Setiap gerak gerik anak mereka amati dan menjadi sangat reaktif ketika menemui perilaku yang menurut orang tua tidak wajar. Sebagian orang tua , karena beban pikiran dan perasaan yang dirasakan tak jarang kemudian menjadi menghentikan diri sejenak dari pekerjaannya. Rasa takut mendengar omongan orang lain juga membuat orang tua memilih untuk menjadi lebih banyak di rumah Selain itu, orang tua korban juga memerlukan pendampingan dan dukungan psikologis agar respon yang muncul menjadi leboh positif.

Pengalaman penulis mendapati sikap yang kurang tepat terhadap korban dan orangtuanya cukup banyak, sehingga tak jarang trauma justru menguat karena tanggapan-tanggapan yang kurang tepat dari orang di sekitarnya. Salah satu contohnya adalah  tindakan menyalahkan korban, atau menghalangi korban unuk menempuh jalur hukum. Lalu bagaimana sikap kita jika mendapati anak teman, tetangga, ataupun kerabat mengalami pelecehan seksual? berikut ini adalah sikap dan tindakan yang sebaiknya dilakukan:

·         Tunjukan empati kita. Katakan bahwa kita turut prihatin dan menunjukkan dukungan melalui bahasa tubuh kita

·         Hindari bertanya terlalu banyak, apalagi hingga seperti menginterogasi mengenai kejadian yang dialami anak mereka. Cukup tunjukkan empati kita, sampaikan bahwa kita siap membantu dan tunggulah, biarkan orang tua bercerita ketika memang mereka ingin bercerita. Janganlah bertanya hanya untuk memusakan rasa ingin tahu kita saja

·         Menghindari bertanya langsung terhadap anak (korban). Bertanya sama saja dengan meminta mereka mengingat kejadian yang tidak mereka sukai

·         Berusaha untuk bersikap sewajar mungkin saat bertemu dengan korban. Hindari memberi tatapan yang terkesan “menyelidik”, misalnya menatap korban dari ujung kepala sampai ujung kaki yag membuat korban menjadi merasa tidak nyaman

·         Hindari membicarakan tentang kejadian yang dialami korban di hadapan korban maupun keluarganya.

·         Hindari membuat asumsi-asumsi mengenai korban maupun pelaku yang belum tentu benar dan justru nantinya menjadi memperkeruh suasana

·         Memotivasi orang tua untuk berani melaporkan kejadian ini kepada pihak kepolisian dan memeriksakan anak ke fasilitas kesehatan mereka sesegera mungkin

·         Membantu korban dan keluarganya untuk menemukan informasi yang tepat mengenai kemana mereka dapat memperoleh pertolongan (pihak kepolisian dan tenaga kesehatan seperti dokter dan psikolog)

Oleh : Intan Kusumawardani

By : Kemsos

Popular News

Pengembangan Kapasitas Tenaga Penyelenggara Penyuluhan Sosial

25/3/2013 14

Oleh : Early FebrianaSebagai bagian dari  upaya meningkatkan etos kerja, dedikasi dan kualitas Sumber Daya Manusia penyuluhan sosial, Pusat Penyuluhan Sosial  mengadakan kegiatan Pengembangan Tenaga Penyelenggara Penyuluhan Sosial di Rumah Jambu Luwuk, Bogor. Sebanyak 53 orang yang terdiri dari pegawai di lingkungan Pusat Penyuluhan Sosial dan tenaga penyuluh sosial fungsional yang ada d...

By : Kemsos

Read More

Bangkitkan Semangat Anggota Karang Taruna Indonesia

20/5/2014 11

Bangkitkan Semangat Anggota Karang Taruna Indonesia “Persepsi Yang Keliru Tentang Karang Taruna” Oleh : Ferdiyan Pratama, S.ST Pernah mengamati fonemen seperti ini. Setiap menjelang peringatan 17 Agustus, pemuda-pemudi di suatu desa atau kelurahan pasti menyibukan diri dalam kegiatan-kegiatan menyambut hari proklamasi Indonesia. Semua unsur pemuda-pemudi menjadi pelopor m...

By : Kemsos

Read More

Mengaktifkan Karang Taruna yang Mati Suri

3/7/2014 09:

Setiap desa/kelurahan hampir pasti memiliki organisasi kepemudaan karang taruna. Wadah yang menggalang inspirasi pemuda ini merupakan arena  pemuda-pemuda untuk berkreasi menjadi motor penggerak masyarakat. Perlu kita sadari bahwa setiap desa/kelurahan memiliki Pemuda-pemuda yang memiliki potensi besar untuk mengembangkan dirinya sendiri dan masyarakat. Banyak pemuda-pemuda yang memiliki po...

By : Kemsos

Read More

Link Lainnya