PUSPENSOS

Pusat Penyuluhan Sosial

Kementerian Sosial Republik Indonesia

 

News & Announcements

Pembangunan Yang Mensejahterakan

07/21/19

  Berdasarkan dari pembahasan tentang konsep pembangunan yang mensejahterakan masyarakat ini, ada kesan bahwa konsep pembangunan yang dikemukan oleh Seers mempunyai hubungan yang relatif signifikan  dengan apa yang dikonsepsikan oleh Marciano Vidal perihal karakteristik negara kesejahteraan. Seers mengungkap  bahwa gagasan-gagasan tentang pembangunan makin mengakomodasi pentingnya martabat manusia dan kesejahteraan masyarakat luas sebagai tujuan pokok pembangunan.

Pembangunan belum bisa dikatakan berhasil bila salah satu atau dua dari tiga kondisi, yaitu kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan menjadi lebih buruk meskipun pendapatan perkapita melambung tinggi. Demikian juga apa yang diutarakan Marciano, mengenai karakteristik negara kesejahteraan. Ia mengungkapkan bahwa secara konseptual negara itu dikatakan sejahtera bila memenuhi empat kriteria pokok, yaitu komitmen negara dalam menciptakan peluang lapangan pekerjaan untuk mengakomodasi melimpahnya angkatan kerja, adanya jaminan asuransi sosial yang berlaku bagi semua warga negara, terselenggaranya pendidikan yang terjangkau.

Meminjam  perspektif  Soedjatmoko, humanis dan intelektual bebas pada zamannya, sebagaimana dikutip Herdi Sahrasad (2012), bahwa kualitas sumber daya manusia (SDM) merupakan modal paling penting dari suatu bangsa, lebih dari pemilikan sumber daya alam. Nasionalisme baru berbasis kualitas SDM itu yang membuat manusia Indonesia bisa bermartabat, duduk sama rendah berdiri sama tinggi dengan bangsa lain.

Pembangunan SDM yang  memiliki pengetahuan modern, kecakapan  ilmu dan teknologi merupakan proses belajar yang harus dilakukan seumur hidup bila bangsa kita hendak survive dalam globalisme yang mencekam dan  memangsa bangsa-bangsa yang lemah atau rentan karena kurangnya pendidikan. Bagi Indonesia nasionalisme baru yang berbasis  pada ilmu-teknologi, moralitas dan kemanusiaan, merupakan pembentuk identitas kebangsaan yang kokoh dan kenyal.

Bagaimanapun, meninjam perspektif Anthony D. Smith sebagaimana dikutip Sahrasad (2012), teori nasionalisme mengalami perkembangan dari masa ke masa dan tergantung pendekatan apa yang digunakan. Pandangan yang mengatakan bahwa bangsa adalah sebuah entitas yang konkrit, yang didasarkan pada latar sejarah dan kehidupan sosial, masyarakatnya homogeny dan bersatu, serta mencerminkan aktor sosial dan politik uatama dalam dunia modern, dalam tiga puluh tahun terakhir ini, nampaknya tidak lagi dapat dipertahankan. Pikiran baru mengenai  nasionalisme semacam itu mengindikasikan  bahwa monopoli interpretasi dan sentralisasi pengertian tentang nasionalisme harus digantikan oleh demokratisasi pemahaman secara lebih substansial. Di sini nasionalisme baru memiliki relevansinya dengan dinamika situasi.

Selama ini ada kecenderungan yang terjadi, bukannya masyarakat mencontoh para pemimpinnya dalam hal saling melindungi antar warga, melainkan justru rakyatlah yang memberikan contoh kepada para pemimpin dalam mengebangkan antusiasme solidaritas kewarganegaraan. Aparatur negara selalu terlambat mewujudkan solidaritas dibandingkan masyarakat warga merespon berbagai persoalan di tingkat akar rumput. Adalah kewajiban dan tanggung jawab negara, aparatur negara dan para pemimpinnya, untuk mewujudkan keempat karakteristik negara kesejahteraan tersebut.

 

Oleh : B. Pudjianto

By : Kemsos

Popular News

Pengembangan Kapasitas Tenaga Penyelenggara Penyuluhan Sosial

25/3/2013 14

Oleh : Early FebrianaSebagai bagian dari  upaya meningkatkan etos kerja, dedikasi dan kualitas Sumber Daya Manusia penyuluhan sosial, Pusat Penyuluhan Sosial  mengadakan kegiatan Pengembangan Tenaga Penyelenggara Penyuluhan Sosial di Rumah Jambu Luwuk, Bogor. Sebanyak 53 orang yang terdiri dari pegawai di lingkungan Pusat Penyuluhan Sosial dan tenaga penyuluh sosial fungsional yang ada d...

By : Kemsos

Read More

Bangkitkan Semangat Anggota Karang Taruna Indonesia

20/5/2014 11

Bangkitkan Semangat Anggota Karang Taruna Indonesia “Persepsi Yang Keliru Tentang Karang Taruna” Oleh : Ferdiyan Pratama, S.ST Pernah mengamati fonemen seperti ini. Setiap menjelang peringatan 17 Agustus, pemuda-pemudi di suatu desa atau kelurahan pasti menyibukan diri dalam kegiatan-kegiatan menyambut hari proklamasi Indonesia. Semua unsur pemuda-pemudi menjadi pelopor m...

By : Kemsos

Read More

Mengaktifkan Karang Taruna yang Mati Suri

3/7/2014 09:

Setiap desa/kelurahan hampir pasti memiliki organisasi kepemudaan karang taruna. Wadah yang menggalang inspirasi pemuda ini merupakan arena  pemuda-pemuda untuk berkreasi menjadi motor penggerak masyarakat. Perlu kita sadari bahwa setiap desa/kelurahan memiliki Pemuda-pemuda yang memiliki potensi besar untuk mengembangkan dirinya sendiri dan masyarakat. Banyak pemuda-pemuda yang memiliki po...

By : Kemsos

Read More

Link Lainnya