MEMBANTU ANAK BERADAPTASI DENGAN “NEW NORMAL”

MEMBANTU ANAK BERADAPTASI DENGAN “NEW NORMAL”


Oleh: Intan Kusuma Wardhani, M.Psi Psikolog

 

New normal menjadi sebuah istilah yang banyak diperbincangkan belakangan ini, seiring dengan kebijakan pemerintah untuk mulai mengaktifkan  kembali aktivitas-aktivitas yang semula dihentikan karena adanya Pandemi COVID-19, termasuk aktivitas pendidikan. Berdasarkan hasil sosialisasi pada tanggal 15 Juni 2020, telah ditetapkan keputusan bersama antara Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementrian Agama, Kementrian Kesehatan, dan Kementrian dalam negeri yang menyebutkan bahwa tahun ajaran baru tetap dimulai bulan Juli 2020. Meskipun demikian, untuk daerah yang berada di zona kuning, oranye, dan merah, dilarang melakukan pembelajaran tatap muka di satuan pendidikan sehingga pembelajaran tetap dilakukan di rumah. Pelaksanaan kegiatan pembelajaran tatap muka pada daerah zona hijaupun dilakukan secara bertahap, dimulai dari jenjang sekolah menengah atas dan sekolah menengah pertama dahulu dan juga harus melalui berbagai persyaratan.

Hasil keputusan ini, di satu sisi melegakan sebagian orang tua yang masih memiliki kekhawatiran tinggi untuk melepas putra putrinya kembali ke sekolah, terutama untuk anak-anak yang masih berada di jenjang pendidikan dasar dan PAUD. Di sisi lain, bagi sebagian orang tua keputusan ini juga dapat menimbulkan kondisi yang menyulitkan manakala masa work from home sudah selesai sementara anak-anak masih harus belajar dari rumah. Orang tua harus menyiapkan  anak-anak untuk menjalani situasi new normal  ini tidak hanya untuk menyiapkan mereka jika hendak masuk sekolah secara tatap muka lagi, namun juga bagaimana menjalani keseharian dengan baik dan aman jika orang tua tidak lagi dapat sepenuhnya memberikan pengawasan.  Berikut ini adalah beberapa upaya-upaya yang dapat dilakukan orang tua untuk membantu anak beradaptasi dengan situasi new normal:

1.     Menjelaskan arti new normal

Sebagaimana para orang tua, anak-anak akan sering mendengar istilah new normal ini. Penting bagi orang tua untuk memastikan bahwa anak memiliki pemahaman yang benar mengenai new normal. Berikan pejelasan melalui kalimat dan kata-kata sederhana dan jelas pada anak-anak bahwa  new normal  bukan berarti kondisi sudah normal dan virus COVID-19 sudah tidak ada lagi di dunia ini. Selama belum ada vaksin untuk mencegah seseorang terkena virus COVID-19 maka kita semua masih harus selalu waspada. New normal  artinya adalah kebiasan baru yang harus dijalankan dalam kehidupan sehari-hari untuk meminimalkan penyebaran virus serta meminimalkan kemungkinan diri terkena virus Corona.  

 

2.     Menjelaskan aturan-aturan penting dalam menjalani new normal

Penjelasan mengenai aturan-aturan ini akan lebih mudah dipahami oleh anak, terutama bagi anak yang masih berusia di bawah 7 tahun jika disertai dengan petunjuk visual seperti gambar atau video. Orang  tua dapat mencari sumber terpercaya di internet untuk ditunjukkan pada anak, atau dapat pula mengajak anak untuk membuat gambar atau poster lalu ditempelken di area yang mudah dilihat di rumah. Media lain yang dapat digunakan untuk menyampaikannya misalnya melalui bercerita, melalui kegiatan bermain peran menggunakan boneka, mini figure, atau wayang kertas sebagai peraga.  

Beberapa aturan penting yang harus selalu ditekankan diantaranya selalu mengenakan masker saat beraktivitas di luar rumah seperti di tempat umum atau di sekolah; menghindari kerumunan ; tidak bersentuhan dan menjaga jarak dengan orang lain; rajin mencuci tangan dengan benar menggunakan sabun, terutama sebelum dan setelah menggunakan fasilitas umum, serta saat kembali ke rumah; menghindari memegang area mata, hidung, dan mulut. Selain aturan umum tersebut, bagi anak-anak yang sudah hendak masuk kembali ke sekolah, dapat ditambahkan aturan khusus seperti:

·       Membawa alat tulis sendiri dan  tidak saling meminjamkan dengan teman

·       Membawa bekal dan alat makan sendiri dan tidak saling meminjamkan dengan teman

·       Tidak bertukar masker dengan teman

Orang tua dapat membantu agar anak mudah ingat, dengan cara memberi label nama atau stiker penanda pada benda-benda milik anak yang dibawa ke sekolah.

 

3.     Ajak anak menerapkan pola hidup sehat

Berikan penjelasan pada anak bahwa kita perlu menjaga kesehatan agar daya tahan tubuh menjadi lebih baik dari serangan penyakit.

·       Upayakan anak memiliki waktu istirahat yang cukup. Tetapkan jadwal memulai tidur dan bangun tidur anak. Sebaiknya anak tidak dibiarkan untuk tidur larut malam atau bangun teralu siang meskipun tidak pergi ke sekolah. Hal ini juga akan membantu anak agar mudah beradaptasi jika nanti tiba waktunya untuk kembali rutin berangkat ke sekolah

·       Batasi waktu penggunaan gadget dan menonton televisi, seimbangkan dengan aktivitas bermain lain yang bersifat aktif

·       Jadwalkan waktu berolah raga bersama keluarga.

·       Beri kesempatan pada anak untuk sesekali dapat menghirup udara segar dan merasakan sinar matahari di luar rumah. Tentunya dengan tetap mencari tempat yang aman dan menghindari kerumunan

·       Biasakan anak untuk makan tepat waktu 3 kali sehari

·       Sediakan dan motivasi anak untuk mengkonsumsi makanan yang sehat degan gizi seimbang  serta minum air putih dengan cukup.

·       Ajak anak untuk berperan serta menjaga kebersihan rumah.

 

4.     Membentuk kebiasaan

Kebiasaan tidak dapat terbentuk dalam waktu yang singkat. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa kebiasaan baru akan terbentuk jika diterapkan secara konsisten setiap hari selama minimal dua bulan. Oleh karena itu, penerapan aturan serta kebiasan baru yang penting dijalankan dalam situasi new normal harus dibiasakan sedini mungkin

·       Orang tua sebagai contoh

Salah satu cara terbaik untuk membentuk kebiasaan pada anak adalah dengan memberikan contoh yang baik. Anak belajar dengan cara melihat perilaku dan kebiasaan orang tua sehari hari.

·       Tegakkan aturan

Aturan yang diterapkan secara konsisten setiap hari sangat penting untuk membentuk kebiasaan anak. Buatlah rutininas dan jadwal. Meskipun jadwal dapat bersifat fleksibel menyesuaikan kondisi yang berbeda pada tiap orang tua, sebaiknya dilakukan pembagian waktu untuk bermain, mengerjakan tugas atau belajar, screen time, serta beristirahat.

Aturan-aturan serta pola hidup sehat seperti yang telah dijelaskan pada poin 2 dan 3 juga sebaiknya dilakukan secara konsisten. Apabila anak melanggar atau lupa, perlu kesabaran orang tua untuk memberikan peringatan. Peringatan sebaiknya disampaikan dengan kalimat yang jelas, pemilihan kata-kata yang positif serta nada bicara yang netral. Contoh: kalimat  “Ayo cuci tangan dahulu” dengan nada yang netral,  akan lebih baik daripada kalimat “kok lupa terus sih cuci tangan!” dengan nada tinggi.

·       Beri penghargaan

Memberikan penghargaan pada anak saat ia mampu melakukan kebiasaan baik tanpa diingatkan, adalah hal yang juga penting untuk dilakukan. Penghargaan dapat dilakukan dalam bentuk kalimat pujian, pelukan, atau isyarat seperti acungan jempol dan tepuk tangan. Hal ini akan membuat anak semakin mudah memahami perilaku yang diharapkan oleh orang tua serta termotivasi untuk kembali melakukannya di kemudian hari

·       Membuat harapan yang realistis

Apabila anak kesulitan dalam menjalankan aturan new normal maupun pola hidup sehat,  diperlukan kesabaran orang tua untuk memberi kesempatan anak belajar dari kesalahan. Hargai setiap kebiasan baik sekecil mungkin yang telah berhasil dilakukan anak. Misalnya anak sudah berhasil ingat untuk selalu cuci tangan sebelum makan, meskipun caranya dalam mencuci tangan belum tepat. Langkah dan perubahan kecil jika dihargai dan diyakinkan bahwa anak mampu, lama kelamaan akan dapat membuat kebiasaan terbentuk dengan baik. Berharap anak langsung dapat menerapkan seluruh aturan dalam waktu singkat akan sangat menguras emosi orang tua dan membuat anak merasa tidak nyaman dan tidak mampu melakukannya.

 

5.     Bekerjasama dengan pengasuh dan guru

Apabila orang tua sudah harus kembali bekerja, sampaikan pada orang dewasa yang menemani anak di rumah untuk tetap menerapkan aturan dan pola hidup sehat yang sama. Apabila sekolah telah dibuka kembali,sebelumnya orang tua dapat beperan aktif memberikan masukan dan membagikan informasi pada pihak sekolah mengenai panduan penerapan new normal di sekolah. Hal-hal apa saja kiranya yang dapat membantu anak untuk selalu ingat aturan mencuci tangan, menjaga jarak, serta menggunakan benda milik pribadi misalnya. Contohnya: orang tua dapat mengusulkan penyediaan sarana cuci tangan yang lebih banyak, memberikan tanda di lantai sebagai batas jarak anak satu dengan yang lain saat mengantri, mengatur jarak posisi tempat duduk, menempelkan poster-poster perisngatan yang mudah dipahami anak, dan lain sebagainya.

 

Referensi:

https://www.thechildrenstrust.org/content/making-most-new-normal-home-kids

https://www.educationalplaycare.com/blog/encourage-good-habits-in-children/

 

 

 

 

 

 

 

 


Bagikan :