Mencegah Diri Menjadi Pelaku Kekerasan Terhadap Anak di Rumah

Mencegah Diri Menjadi Pelaku Kekerasan Terhadap Anak di Rumah

Merupakan sebuah fakta yang menarik namun sekaligus memprihatinkan, bahwa selama Pandemi COVID-19 angka kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak tercatat mengalami peningkatan. Berdasarkan catatan Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, sejak 2 Maret – 25 April 2020 saja sudah ada 643 kasus yang dilaporkan melalui sistem informasi online (Simfoni PPA). 368 dari jumlah kasus tersebut merupakan kasus kekerasan terhadap anak. Prosentase tertinggi menunjukkan kasus terjadi di dalam rumah tangga. Kondisi ini dinilai oleh berbagai pihak, sangat berkaitan dengan kondisi psikologis masyarakat yang mengalami berbagai tekanan terkait kondisi sosial ekonomi, kesehatan, serta berbagai perubahan situasi akibat pandemic COVID-19.

Kondisi psikologis seseorang yang tidak stabil dalam situasi yang menekan atau tidak menyenangkan memang dapat memicu munculnya perilaku-perilaku yang bersifat maladpatif, salah satunya dapat berupa perilaku kekerasan. Dalam sebuah rumah tangga, orang tua merupakan figur utama yang seyogyanya memberikan perlindungan terhadap anak dari berbagai bentuk tindak kekerasan, namun pada kasus kekerasan domestik tidak sedikit perilaku kekerasan terhadap anak justru dilakukan oleh orang tua sendiri ataupun pengasuh. Kekerasan dapat dilakukan secara sadar atau sengaja maupun secara tidak disadari. Penting bagi masyarakat yang telah menjadi orang tua untuk mengetahui, tindakan atau perilaku apa saja yang dapat digolongkan merupakan kekerasan terhadap anak.

a.     Kekerasan fisik

Kekerasan fisik adalah segala bentuk tindakan yang dilakukan oleh orang tua atau pengasuh yang menyebabkan luka fisik, dan bukan merupakan akibat dari ketidaksengajaan. Tindakan yang termasuk kekerasan fisik diantaranya memukul menendang, membakar, menggigit, menjambak, melempar, mendorong, menyiksa, atau aksi lain yang melukai anak. Meskipun pada kasus tertentu orang tua atau pengasuh tidak merasa bermaksud melukai anak namun memiliki tujuan lain seperti untuk mendisiplinkan anak, namun jika anak terluka maka tetap termasuk dalam tindak kekerasan terhadap anak

b.     Kekerasan emosional

Kekerasan emosional terjadi ketika orang tua atau pengasuh membahayakan perkembangan mental dan sosial anak. Seringkali kekerasan emosional menjadi sebuah pola perilaku yang dilakukan oleh orang tua atau pengasuh dalam jangka waktu yang lama. Tindakan yang termasuk kekerasan emosional diataranya menolak keberadaan anak, mempermalukan anak, mengejek, meneror anak dengan ancaman-ancaman, mengisolasi anak dari pergaulan dan aktivitas positif di luar rumah, melibatkan anak dalam tindak kriminal, membohongi atau memanipulasi anak untuk melakukan tindakan yang tidak benar, dan lain sebagainya.

c.      Kekerasan seksual

Kekerasan seksual terjadi ketika orang dewasa di rumah menggunakan anak untuk tujuan kepuasan seksual atau melibatkan anak pada tindakan seksual. Tindakan yang termasuk kekerasan seksual diantaranya meminta anak menyaksikan adegan seksual, menunjukkan organ seksual pada anak atau meminta anak menunjukkan organ seksualnya, pembicaraan seksual yang tidak pantas untuk anak, penetrasi seksual, meminta anak melakukan tindakan seksual (contoh: seks oral), maupun mengeksploitasi anak untuk prostiusi atau pornografi

d.     Pengabaian terhadap anak

Pengabaian terhadap anak terjadi ketika orang tua atau pengasuh tidak memberikan kepedulian, bimbingan, kasih sayang, dan dukungan yang diperlukan bagi kesehatan, keamanan dan kesejahteraan anak. Pengabaian dapat meliputi pengabaian secara fisik, pengawasan yang tidak memadai, pengabaian secara emosi, pengabaian terhadap kebutuhan kesehatan dan pendidikan anak.

Selain itu, penting pula untuk disadari bahwa segala bentuk kekerasan dapat membekas dalam jangka panjang pada diri anak. Bekas tidak hanya berupa luka fisik, namun juga luka batin yang berdampak pada perkembangan dan kondisi psikologis anak sepanjang hidupnya. Beberapa dampak yang mungkin muncul diantaranya:

a.     Sulit mempercayai  dan membangun hubungan sosial yang baik dengan orang lain

Kekerasan yang dilakukan oleh orang tua menyebabkan anak merasa tidak aman sehingga ia menjadi sulit mempercayai orang lain. Padahal rasa aman dan percaya adalah dasar penting bagi seseorang untuk dapat membangun relasi yang baik. Relasi yang dimaksud dapat meliputi relasi dalam berteman, bekerja, maupun nantinya dalam membangun rumah tangga karena anak tidak memiliki gambaran dasar mengenai bagaimana hubungan yang baik itu.

b.     Merasa diri tidak berharga

Apabila anak di rumah berulang kali dikatakan “bodoh” atau “tidak baik” bahkan tidak diterima keberadaannya, akan sangat sulit bagi anak untuk dapat membangun rasa kepercayaan diri dan perasaan bahwa dirinya berharga. Saat mereka tumbuh nantinya anak-anak seperti ini akan rentan untuk memiliki prestasi akademik yang buruk, kesulitan mendapatkan pekerjaan, serta tidak memiliki cita-cita atau harapan hidup.

c.      Memiliki masalah dalam mengelola emosi

Anak yang mengalami kekerasan, tidak dapat mengekspresikan emosinya secara aman di rumah. Emosi yang terpendam lama dan tak terbendung kemudian dapat muncul dalam bentuk-bentuk perilaku negatif seperti perilaku kekerasan, merusak, penyalahgunaan obat dan alcohol maupun gangguan psikologis seperti depresi, gangguan kecemasan, gangguan sikap menentang, maupun gangguan perilaku lainnya.

Tidak semua orang tua yang melakukan kekerasan terhadap anak dengan sengaja melakukan kekerasan pada anak mereka. Ada pula yang merupakan korban kekerasan oleh pasangan ataupun korban kekerasan di masa kecil dan tidak tahu bagaimana cara mengasuh anak dengan tepat. Sebagian yang lain merupakan orang tua yang memiliki gangguan kesehatan mental atau penyalahgunaan zat. Oleh karena itu penting sekali bagi orang tua selain mengetahui bentuk-bentuk perilaku kekerasan serta menyadari akibatnya pada anak, juga memiliki kesadaran mengenai bagaimana mengelola diri, terutama mengelola emosi dan perilakunya agar tidak melakukan tindak kekerasan terhadap anak baik secara sengaja maupun tidak.

a.     Mengenali tanda-tanda emosi muncul

Misalnya untuk emosi marah, umumnya ditandai dengan meningkatnya detak jantung, nafas lebih cepat, wajah terasa panas, berkeringat, dan otot-otot menegang.

b.     Menyadari jenis  emosi yang dirasakan dan pemicunya

Selain perubahan situasi akibat pandemi COVID-19 banyak sekali hal-hal yang dapat menjadi pemicu orang tua untuk menjadi emosional dalam kehidupan di rumah yang penting untuk disadari seperti marah atau frustrasi karena perilaku pasangan yang kurang mendukung dalam mengurus rumah tangga, marah karena anak rewel dan tidak menurut, khawatir memikirkan kesulitan ekonomi, lelah karena tekanan pekerjaan kantor, mudah tersinggung karena sedang tidak enak badan atau kurang tidur, dan lain sebagainya. Emosi yang disadari akan lebih mudah untuk dikendalikan.

c.      Menghentikan pikiran negatif yang muncul

Pikiran negatif sangatlah umum muncul pada diri seseorang yang sedang dalam kondisi emosi negative yang intens, misalnya pada saat marah, kecewa, atau sedih. Apabila pikiran negatif tersebut tidak dihentikan, emosi dapat menjadi semakin kuat dan melebar keluar dari inti masalah. Misalnya seorang ibu yang lelah sepulang dari kantor lalu mendapati rumah berantakan, anak-anak bertengkar, dan tidak mau mematuhi kata-kata sang ibu. Kondisi tersebut membuat ibu menjadi marah dan frustrasi serta muncul pikiran-pikiran negatif seperti “Anak-anakku nakal sekali, mereka hanya bia dikerasi!”,”Anak-anak selalu membuat hari hariku kacau saja!”. Apabila pikiran semacam itu muncul, cara yang tepat untuk mencegah luapan emosi adalah menghentikan pikiran tersebut dan berusaha menenangkan diri

d.     Berusaha untuk menenangkan diri

Apabila orang tua tidak dapat meninggalkan anak untuk sementara waktu, maka hal ini dapat dilakukan:

·       Duduk dan berusaha untuk mengatur nafas. Menarik nafas dalam 2 detik dan mengeluarkan nafas dalam  detik 4 detik. Lakukan beberapa kali hingga detak jantung menjadi lebih pelan dan otot-otot melemas

·       Apabila anak berteriak-teriak menangis atau tantrum, gunakan headphone atau benda lain yang dapat mengurangi suara yang didengar untuk sementara waktu.

·       Bicara dengan memiih kata “aku” bukan “kamu” saat mengekspresikan emosi. Contoh: “Mama kesal kalau kamu tetap melakukan itu karena….”, daripada mengucap “Kamu selalu membuat mama kesal!”

·       Apabila orang tua dalam kondisi lelah, sebaiknya tidak langsung mengkonfrontasi anak  saat anak menimbulkan kekesalan atau melakukan kesalahan. Beri jeda waktu pada diri sendiri paling tidak 10-15 menit untuk meredakan kelelahan, baru kemudian menegur atau mengajak anak membicarakan kesalahannya

Apabila ada orang dewasa lain yang dapat menjaga anak, dan orang tua dapat meninggalkan anak untuk menenangkan diri, dapat dilakukan:

·       Lakukan sesuatu yang menenangkan seperti mendengarkan musik, melihat-lihat majalah,atau sekedar melihat keluar jendela

·       Berjalan-jalan atau berlari di luar rumah

·       Mandi dengan air hangat

·       Berbicara atau berbagi perasaan dengan sahabat atau saudara terdekat

e.     Melakukan refleksi atas situasi yang terjadi

Apabila orang tua telah dalam kondisi tenang, refleksi diri akan dapat membantu untuk mengambil pelajaran dan menghadapi situasi yang mirip dengan lebih baik di kemudian hari. Refleksi dapat dilakukan dengan bertanya pada diri sendiri misalnya  “Mengapa aku tadi begitu marah pada anak-anak?” “Apakah tadi aku melakukan tindakan yang semestinya?”

d.     Meminta maaf kepada anak

Meminta maaf kepada anak atas ekspresi emosi yang berlebihan dan perilaku lebih tepat seperti apa yang seharusnya dilakukan, akan menjadi contoh manajemen emosi yang baik bagi anak .

Pada kondisi tertentu, orang tua bisa jadi memiliki tekanan psikologis yang begitu kuat misalnya karena baru saja kehilangan orang yang disayangi, mengalami sakit kronis, kehilangan pekerjaan, atau mengalami kejadian traumatik, sehingga cara-cara di atas tidak cukup membantu untuk mengelola emosi dan mencegah diri melakukan kekerasan pada anak. Apalagi, jika dalam keluarga pasangan maupun anggota keluarga lain tidak dapat memberikan dukungan psikologis yang memadai. Pada kondisi seperti ini, orang tua sebaiknya tidak segan-segan untuk berkonsultasi pada tenaga profesional di bidang kesehatan mental seperti misalnya psikolog atau psikiater untuk dapat dilakukan konseling, psikoterapi, pengobatan (jika diperlukan) atau program-program untuk pengelolaan emosi dan perilaku .


Ditulis Oleh : Intan Kusumawardhani  

Referensi:

Childhelp.org, The Issue of Child Abuse, diakses pada tanggal 15 Agustus 2020 dari (https://www.childhelp.org/childabuse/#:~:text=Child%20abuse%20is%20when%20a,abuse%2C%20exploitation%20and%20emotional%20abuse.

Helpguide.org (2019, Juni), Child Abuse and Neglect, diakses pada tanggal 15 Agustus 2020 dari https://www.helpguide.org/articles/abuse/child-abuse-and-neglect.htm

Katadata.com (2020, 29 April), Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak Meningkat Selama Pandemi, diakses pada tanggal 15 Agustus 2020 dari https://katadata.co.id/happyfajrian/berita/5ea918c3a09ad/kasus-kekerasan-terhadap-perempuan-dan-anak-meningkat-selama-pandemi

Raisingchildren.net.au, Anger and Aanger Management for Parents, diakses pada tanggal 15 Agustus 2020 dari https://raisingchildren.net.au/guides/first-1000-days/looking-after-yourself/anger-management-for-parents

Stanfordchildrens.org, (2020), Anger Management Strategies for Parents and Grandparents, diakses pada tanggal 15 Agustus 2020 dari https://www.stanfordchildrens.org/en/topic/default?id=anger-management-strategies-for-parents-and-grandparents-160-45#:~:text=When%20you%20feel%20like%20you,Slow%2C%20deep%20breathing

 


Bagikan :