|    puspensos@kemsos.go.id

Mengapa Anak Terlibat Perbuatan Kriminal

Mengapa Anak Terlibat Perbuatan Kriminal

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melaporkan terdapat 4.885 kasus yang melibatkan anak di sepanjang tahun 2018. Angka ini meningkat dibanding jumlah pengaduan tahun 2017 yang mencapai 4.579 kasus. Dari jumlah itu kasus anak berhadapan dengan hukum (ABH) menduduki urutan pertama dengan 1.434 kasus. Jumlah ini belum termasuk yang kasus lain yang tidak dilaporkan.

Perbuatan kriminal yang menjadikan anak berhadapan dengan hukum dimulai dengan kenakalan remaja. Dari coba-coba merokok, meningkat menjadi mengkonsumsi ganja. Dari nonton konten pornografi, lalu menjadi pelaku pelecehan seksual.

            Artinya, tindakan melanggar hukum yang dilakukan oleh anak tidak sera merta terjadi dalam satu malam. Ada kejadian-kejadian yang mendahului sehingga pelanggaran yang mereka lakukan meningkat. Ada banyak faktor yang menjadi pendorong kenapa anak berbuat kejahatan.

Kurang Perhatian Orang Tua

ABH berasal dari berbagai latar belakang berbeda-beda. Kebanyakan dari mereka memiliki keluarga yang tidak utuh seperti tidak tinggal dengan ayah, ibu, atau keduanya, dan juga korban perceraian. Hal ini terkadang memaksa anak tinggal dengan nenek atau bukan dengan keluarga inti. Tentunya kasih sayang orang tua tak dapat digantikan dengan kasih sayang dari orang lain. Tanpa adanya orang tua di samping mereka membuat mereka menjadi rentan pada tindakan kejahatan, baik menjadi pelaku atau korban. Terdapat kasus dimana anak bahkan diekploitasi oleh orang tuanya dan dituntut bekerja memenuhi kebutuhan kehidupan keluarga. Selain itu, kurangnya kontrol orang tua menambah deretan penyebab anak berkonflik dengan hukum. Akibatnya, anak-anak mempunyai kontrol diri yang rendah yang menyebabkan mereka mudah terlibat kasus hukum.

Kemiskinan

Tampaknya tidak salah mengatakan jika kemiskinan adalah akar dari  masalah sosial yang ada. Setidaknya kemiskinan menjadi pemicu tindakan kriminal terjadi. Orang tua mereka tidak mengenyam pendidikan sampai tuntas, beberapa diantaranya tidak menamatkan jenjang sekolah dasar. Hal ini pun terjadi kepada anak-anak mereka yang kebanyakan putus sekolah. Meskipun sudah ada program sekolah gratis, namum anak-anak tidak mendapatkan pelayanan ini dikarenakan bersekolah di sekolah swasta yang menuntut pembayaran SPP setiap bulannya. Pendidikan yang rendah ini pun membuat pekerjaan yang mereka tekuni tidak mampu menghasilkan penghasilan yang dapat  memenuhi kebutuhan dasar keluarga. Berdasarkan keterangan pekerja sosial. Anak-anak yang telah putus sekolah tidak mempunyai kegiatan sehingga mereka bekerja untuk memenuhi kebutuhan.  Ada kalanya uang yang mereka dapatkan dari bekerja dan dari orang tua tidak cukup untuk membeli sesuatu yang mereka inginkan. Sehingga anak-anak tergoda melakukan tindakan pidana seperti pencurian.

Pergaulan Bebas

Penyebab ABH tersandung hukum  bersinggungan satu sama lainnya. Seperti kurangnya kontrol dari orang tua akan merujuk pada anak terjerembab pergaulan bebas. Orang tua tidak mengetahui dengan siapa anak bergaul dan acuh pada apa yang dilakukan anak. Tanpa sepengetahuan orang tua, anak bergaul dengan orang dewasa dan teman-teman yang memberikan efek buruk bagi mereka. Pergaulan bebas memperkenal anak pada narkotika, porografi,dan tindakan pelecehan seksual. Assesmen pada anak menunjukkan bahwa mereka telah megenal rokok dan pornografi dari usia masih sangat muda.  Salah satu penyebab yang memberikan dampak besar adalah mudahnya mengakses jaringan internet. Anak-anak mendatangi warnet (warung internet) dari pagi sampai larut malam, dan mereka dapat megakses apapun yang ada di dalamnya termasuk pornografi.

 

Kasus-kasus yang melibatkan anak akan terus ada seiring dengan perkembangan peradaban. Masalah sosial kontemporer-modern diprediksi akan terus muncul mengingat melesatnya perkembangan teknologi dan kemudahan akses internet pada anak.

Oleh : Rizka Surya Ananda


Bagikan :