MENJAGA KESEHATAN MENTAL ANAK SELAMA STAY AT HOME

MENJAGA KESEHATAN MENTAL ANAK SELAMA STAY AT HOME


Oleh : Intan Kusuma Wardhani, M.Psi, Psikolog

 

Pandemi COVID-19 tidak hanya menimbulkan dampak pada aspek sosial ekonomi, namun juga kondisi kesehatan mental masyarakat. Seperti kita ketahui bersama bahwa pada tahun ajaran baru bulan Juli2020 sebagian besar anak-anak Indonesia masih harus menjalani kegiatan sekolah dari rumah masing-masing. Meskipun new normal telah digaungkan, tentunya masih banyak sekali batasan bagi anak-anak untuk dapat beraktivitas di luar rumah.  Mereka belum dapat berjumpa dan bermain bersama teman-teman sekolah, serta belum dapat dengan bebas mengujungi tempat-tempat yang mereka sukai seperti kolam renang, playground, atau tempat rekreasi. Tekanan akan berpotensi menjadi lebih kuat manakala para orang tua yang bekerja, sudah mulai harus bekerja di kantor dan meninggalkan anak-anak mereka di rumah.

Penelitian terkini yang dilakukan oleh Smantha Brooks dan rekan menemukan bahwa post-traumatic stress symptom (PTSS) muncul 28-34%, serta ketakutan sebanyak 20% dari subjek penelitian selama menjalani karantina di rumah. Masalah kesehatan mental lain yang muncul diantaranya depresi,kehilangan mood, mudah tersinggung, insomnia, kemarahan, dan kelelahan secara emosi. Permasalahan tersebut tidak hanya dapat dialami oleh orang dewasa, namun juga dapat terjadi pada anak-anak. Sebagaian anak memiliki resiko untuk mengalami masalah kesehatan mental lebih tinggi dibandingkan anak-anak lain, diantaranya yaitu anak-anak dari keluarga sosial ekonomi menengah kebawah yang mengalami tekanan ekonomi akibat pandemi, anak-anak yang mengalami kejadian buruk sebelum pandemi, anak-anak yang sudah mengalami problem kesehatan mental sebelum pandemi, serta anak-anak yang mendapatkan penganiayaan atau pengabaian oleh orang tua.

Penulis yang merupakan seorang praktisi psikolog klinis, menemukan bahwa selama masa pandemi COVID-19 beberapa klien yang mengeluhkan perubahan perilaku serta emosi anak-anak mereka. Sebagian klien mengeluhkan anak lebih mudah marah dari sebelumnya, mudah terganggu oleh hal-hal kecil, ada pula yang mengeluhkan anak menjadi lebih mudah sedih dan menangis tanpa sebab yang jelas. Setelah dilakukan pemeriksaan psikologis terhadap anak, ternyata perubahan situasi kehidupan aktibat pandemi memiliki pengaruh baik langsung maupun tidak langsung terhadap kemunculan keluhan-keluhan tersebut.  Keluhan-keluhan tersebut tentunya sangat perlu untuk disikapi oleh orang tua dengan tepat agar tidak berkembang menjadi suatu bentuk gangguan psikologis/ gangguan kesehatan psikologis yang lebih berat. Upaya-upaya yang dapat dilakukan oleh orang tua dalam lingkup keluarga diantaranya sebagai berikut:

1.     Perhatikan apa yang anak-anak lihat dan dengar dari televisi, radio atau berita online

Berada di rumah saja selama pandemic membuat kecenderungan lamanya screen time menjadi meningkat. Penting bagi orang tua untuk mengurangi paparan informasi yang fokus pada COVID-19. Terlalu banyak informasi atau secara konstan mengikuti berita terbaru mengenai COVID-19 berpotensi meningkatkan kecemasan. Informasi yang formatnya diperuntukkan untuk orang dewasa, bukan untuk anak-anak juga dapat menimbulkan kecemasan dan kebingungan, terutama pada anak-anak yang masih kecil dan belum memiliki kemampuan analisa yang baik. Bantu pula anak untuk belajar menyaring informasi yang tidak akurat atau hoax. Ajak anak mendiskusikan hal tersebut

 

2.     Kelola kecemasan diri

Apabila orang tua sendiri merasa dalam kondisi cemas,  sebaiknya luangkan waktu untuk mengelola ketakutan dan mengambil nafas panjang untuk menenangkan diri sebelum berkomunikasi dengan anak, atau memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan anak. Ekspresi cemas orang tua jika sering teramati oleh anak akan mempengaruhi kondisi psikologis mereka. Salah satu bentuk ekspresi kecemasan yang sering muncul adalah memberikan larangan atau batasan yang berlebihan pada anak. Contohnya: anak sama sekali tidak boleh keluar rumah, bahkan untuk bermain di halaman rumahnya sendiri

 

3.     Menjaga rutinitas

Pastikan bahwa orang tua tetap membuat rutinitas untuk anak. Kepastian mengenai apa yang akan dilakukan, dan apa saja yang dapat dilakukan di rumah dapat membantu anak merasa lebih tenang. Waktu makan dan tidur secara teratur adalah hal penting untuk membuat anak tetap ceria dan sehat. Ketersediaan waktu untuk melakukan permainan atau aktivitas fisik juga penting bagi anak. Selain membuat tubuh sehat, juga dapat membantu sekresi hormon-hormon yang memunculkan mood positif.  Sebaliknya, terlalu banyak aktivitas pasif seperti duduk menonton televisi atau bermain gadget terlalu lama dapat membuat membuat mood anak menjadi cenderung kurang baik

 

4.     Bantu anak mencari alternatif aktivitas

Kebosanan dan kejenuhan adalah hal yang sangat wajar dialami anak selama di rumah sehingga berpotensi memunculkan berbagai emosi negatif. Membantu mereka mencari berbagai variasi aktivitas akan membantu stabilitas emosi mereka lebih terjaga. Apabila anak bosan dengan mainan yang mereka miliki, ajak mereka membaca buku, libatkan mereka dalam aktivitas memasak, bercocok tanam, membersihkan rumah, merawat peliharaan, membuat hasta karya, atau mencoba hal-hal baru lain yang belum mereka lakukan. Sesekali mengajak anak untuk beraktivitas di luar rumah, menghirup udara segar juga baik untuk kesehatan mental mereka. Tentunya dengan memilih lokasi yang aman dari kerumunan orang dan tetap menerapkan protokol kesehatan yang disarankan pemerintah

 

5.     Menjadi teman bermain

Tetap berada di rumah membuat anak kehilangan teman bermain bersama,  apalagi jika ia tidak memiliki saudara yang dapat diajak untuk bermain. Oleh karena itu, jika orang tua bersedia meluangkan waktu untuk ikut bermain sebagai teman, bukan semata-mata menunggui mereka bermain, akan sangat membantu memunculkan kegembiraan, serta bentuk emosi positif lainnya. Anak akan merasa disayangi dan juga diperhatikan.

 

6.     Memahami bahwa anak-anak dapat mengkhawatirkan teman-teman dan keluarganya

Mendengar ada orang lain yang mereka kenal atau tinggal tidak jauh dari anak terkena COVID-19 dapat membuat anak mengkhawatirkan orang-orang di sekitarnya, termasuk orang tua yang mungkin harus kembali bekerja di kantor, atau masih harus sering beraktivitas di luar rumah. Sebagian anak mungkin dapat menyampaikan kekhawatiran ini secara lisan, namun sebagian anak yang lain dapat mengekspresikan dalam bentuk perilaku yang mungkin dapat membuat orang tua kesal. Misalnya rewel atau marah berlebihan ketika akan ditinggal bekerja. Orang tua perlu memahami bahwa perilaku tersebut bisa merupakan bentuk kekhawatiran anak. Dengarkan kekhawatiran mereka serta beri pengertian pada mereka bahwa orang tua akan menjalankan menjalankan protokol kesehatan yang dapat membuat orang tua aman, serta jika sakit aka nada tenaga kesehatan yang dapat membantu.

 

7.     Bantu anak untuk dapat tetap berhubungan dengan teman yang mereka sayangi meskipun secara online. Beri kesempatan bagi mereka untuk melakukan video call, atau merancang pertemuan online dengan para orang tua yang lain

 

8.     Buat anak merasa bahwa ia dapat memegang kendali atas kesehatan mereka

Anak-anak akan merasa berdaya ketika mereka tahu apa yang dapat mereka lakukan untuk membuat diri mereka tetap aman dari COVID-19. Mengajarkan pada mereka bahwa berusaha menjaga kesehatan dan menjaga kebersihan diri akan membuat mereka baik dan sehat. Salah satu hal yang dapat ditekankan misalnya bahwa mencuci tangan secara rutin akan membantu menjaga diri agar terhindar dari virus dan bakteri, dan selama pandemic mereka akan lebih aman jika melakukannya secara lebih sering dan dengan langkah-langkah cuci tangan yang tepat

 

9.     Menjadi contoh yang baik bagi anak.

Anak-anak banyak belajar dari apa yang orang tua lakukan. Oleh karena itu orang tua perlu menconthkan bagaimana cara menjaga kesehatan fisik dan mental dengan baik, contohnya dengan rajin mencuci tangan, banyak minum air putih, berolahraga, melakukan hobi  yang menyenangkan di rumah, serta banyak berdoa untuk menenangkan diri. Apabila anak cenderung fokus pada pikiran negatif yang membuat mereka cemas atau sedih, bantu mereka untuk bepikir lebih optimis. Beri mereka pengertian bahwa meskipun hal yang buruk mungkin terjadi, namun belum tentu terjadi demikian dan kita dapat berupaya untuk bersama sama menjaga hal buruk tersebut agar tidak terjadi.

 

10. Siapkan mental anak jika orang tua harus kembali bekerja di kantor

Berada di rumah bersama orang tua setiap hari dalam waktu yang lama tentu akan membuat anak merasa kehilangan ketika orang tua harus kembali bekerja di kantor. Jika tanggal masuk kerja telah ditetapkan, sebaiknya sampaikan jauh-jauh hari pada anak secara terus terang. Hindari membohongi, pergi diam-diam, atau menghindari membicarkan hal ini dengan anak yang justru akan membuat anak menjadi merasa tidak aman. Apabila anak tampak sedih atau khawatir, sampaikan hal-hal apa saja yang dapat mereka lakukan selama orang tua bekerja, dan hal menyenangkan apa yang akan tetap dapat dilakukan bersama setelah orang tua pulang kantor. Merencanakan kegiatan saat weekend juga dapat menjadi hal yang menyenangkan bagi anak.

 

Referensi:

How to support kids’s mental health during the COVID -19 pandemic. https://www.thechildren.com/health-info/conditions-and-illnesses/how-support-kids-mental-health-during-COVID-19-pandemic

Ferget, J.M dkk.2020. Child and Adolescent Psychiatry and Mental Health Volume 14. Challenges and burden of the Coronavirus 2019 (COVID-19) pandemic for child and adolescent mental health: a narrative review to highlight clinical and research needs in the acute phase and the long return to normality. https://www.thechildren.com/health-info/conditions-and-illnesses/how-support-kids-mental-health-during-COVID-19-pandemic

 

 

 

 

 

 


Bagikan :