PENERAPAN DISIPLIN POSITIF UNTUK MENGELOLA EMOSI DAN PERILAKU ANAK SELAMA DI RUMAH

PENERAPAN DISIPLIN POSITIF UNTUK MENGELOLA EMOSI DAN PERILAKU ANAK SELAMA DI RUMAH

 

             Situasi pandemi COVID-19 membuat sebagian besar orang mengalami perasaan dan pikiran yang tidak menyenangkan, termasuk anak-anak. Sebagaimana orang dewasa, mereka dapat merasakan kekhawatiran akan kondisi yang tidak pasti, kesedihan, kejenuhan, kepenatan menghadapi situasi di dalam rumah yang mungkin kurang menyenangkan, kekecewaan karena harus menahan banyak keinginan yang belum dapat dilakukan, atau kerinduan pada orang-orang yang disayangi seperti keluarga yang tidak tinggal serumah atau sahabat di sekolah. Anak-anak yang masih kecil umumnya belum memiliki kemampuan yang memadai untuk mengekspresikan perasaan-persaan tersebut dengan kalimat dan cara yang baik. Hal ini membuat anak cenderung mengekspresikan perasaan mereka dalam bentuk perilaku-perilaku yang tidak jarang membuat orang tua menjadi kehilangan kesabaran, apalagi mengingat orang tua sendiri juga sangat mungkin sedang mengalami stres atau kondisi psikologis yang tidak prima. Perilaku yang muncul dapat berupa ekspresi marah yang berlebihan, banyak merengek, banyak meminta dilayani, dapat pula muncul dalam bentuk perilaku menentang atau tidak mau mengikuti aturan.

Apabila emosi serta perilaku-perilaku negatif anak dibiarkan dalam waktu yang lama, tentunya akan dapat menimbulkan dampak yang tidak baik terhadap kesehatan mental anak maupun orang tua. Mengingat anak-anak di sebagian besar wilayah di Indonesia, terutama untuk jenjang PAUD hingga sekolah dasar belum dapat melakukan kegiatan belajar di sekolah, serta belum dapat melakukan kegiatan-kegiatan non akademik lain secara bebas di luar rumah, tentunya pengelolaan emosi dan perilaku di rumah menjadi hal yang sangat penting. Pengelolaan emosi dan perilaku juga merupakan bagian dari pendidikan dalam keluarga yang dapat dilakukan oleh orang tua di rumah, salah satunya melalui tehnik disiplin positif seperti tersebut berikut ini:

 

1.     Membuat aturan bersama

Ajak anak mendiskusikan aturan apa saja yang perlu diterapkan selama di rumah, misalnya aturan durasi menonton TV dan bermain gadget, waktu untuk mengerjakan tugas, waktu untuk istirahat, serta bagaimana aturan menggunakan benda milik bersama. Selain aturan, sebaiknya disepakati apa konsekuensi apa yang harus dilakukan anak jika melanggar.

 

2.     Menyampaikan harapan yang konkrit.

Pada anak yang sudah dapat diberi penjelasan, orang tua perlu menyampaikan harapan yang jelas dan konkrit terhadap anak. Harapan yang kurang konkrit akan membuat anak sulit mengikuti., contohnya: “Ayah ingin kamu tidak sering rewel”. Seperti apakah “rewel” yang dimaksud?hal ini perlu diperjelas, contohnya “Ayah ingin kamu tidak berteriak-teriak kalau meminta sesuatu, cukup bicara yang pelan”

 

3.     Memberi perhatian khusus pada perilaku positif dan mengabaikan perilaku negatif

Jadikan perhatian orang tua sebagai cara untuk memperkuat perilaku positif anak dan mengurangi perilaku negatifnya. Perhatian diberikan saat anak mau mencoba melakukan perbuatan baik, atau berhasil melakukan perbuatan baik. Perhatian dapat diekspresikan orang tua secara lisan melalaui kata-kata pujian, melalui sentuhan kasih sayang, bahasa tubuh seperti acungan jempol, atau sesekali dapat pula memberikan hadiah yang anak sukai. Perhatian ini akan membuat anak menyadari perilaku seperti apa yang diharapkan oleh orang tua.

Selama perhatian pada perilaku positif diberikan, pengabaian terhadap perilaku negatif dapat dilakukan orang tua pada kondisi tertentu. Sebagai contoh, anak sengaja memainkan benda-benda hingga menimbulkan suara yang mengganggu untuk mencari perhatian orang tua. Pada contoh ini, jika anak mendapatkan perhatian dengan cara melakukan perilaku negatif tersebut, dampaknya malah akan justru kurang baik pada anak. Selama perilaku negatif yang dilakukan tidak merusak atau membahayakan, mengabaikan justru akan dapat membuat anak memahami bahwa tindakan tersebut tidak efektif untuk membuatnya diperhatikan. Berikan perhatian dan respon ketika anak mengentikan perilaku negatifnya tadi secara sukarela, contoh: memberikan pujian “terimakasih nak, kalau tenang seperti ini lebih enak kan”

 

4.     Memberikan arahan

Terkadang anak-anak berbuat buruk Karena mereka merasa bosan, atau tidak tahu hal positif apa yang dapat mereka lakukan. Apabila ini terjadi, orang tua sebaiknya dapat memberikan arahan dalam mencari alternatif kegiatan untuk anak. Sebagai contoh seorang anak balita yang semula suka memainkan sebuah bola dengan menendangnya, lama kelamaan bosan sehingga ia mulai sering menendang benda-benda di sekitarnya. Pada kasus semacam ini orang tua dapat mengajak anak melakukan beberapa variasi lain cara bermain bola, misalnya dijadikan permainan melempar bola ke keranjang, atau bermain bowling. Jika anak tetap bosan dengan coba, diperlukan kreativitas orang tua untuk mencari alternative aktivitas lainnya.

 

5.     Kegiatan kreatif

Kegiatan yang mengandung unsur kreativitas dapat menjadi media bagi anak untuk mengekspresikan emosi secara positif sekaligus menjadi media yang menyenangkan bagi orang tua untuk memberikan peringatan pada anak. Sebagai contoh misalnya orang tua dapat mengajak anak untuk bersama-sama menggambar hal-hal yang dapat dilakuan untuk menjaga seluruh anggota keluarga tetap aman dari COVID-19 atau menggambar hal-hal yang dapat dilakukan untuk membuat anggota keluarga tetap merasa senang di rumah,  lalu menempelkan gambar tersebut di tempat yang mudah dilihat. Keluarga yang memiliki minat terhadap musik dapat bersama-sama menciptakan lagu yang dapat mengingatkan mereka untuk tetap menjaga kesehatan, senang dan bersemangat. Orang tua dapat pula mengajak anak membuat board game sendiri, misalnya membuat permainan ular tangga namun dimodifikasi dengan menuliskan pesan-pesan mengenai hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan di rumah

 

6.     Memberikan waktu spesial untuk anak

Setiap orang tua tentunya memiliki peran dan tanggung jawab yang berbeda-beda di masa kenormalan baru ini. Ada para orang tua yang sudah harus kembali bekerja di kantor sementara anak-anak masih harus di rumah bersama kakek nenek atau pengasuh, ada pula yang bekerja di rumah sehingga 24 jam bersama di anak. Meskipun berada di rumah yang sama, tak jarang peran dan tanggung jawab yang ada di rumah membuat orang tua terlupa untuk memberikan waktu khusus.

Ketersediaan waktu khusus bersama anak meskipun hanya 15-30 menit setiap hari jika orang tua memberikan perhatian penuh pada anak selama waktu tersebut akan sangat besar artinya bagi mereka. Selama waktu khusus ini biarkan anak memilih aktivitas yang mereka inginkan, jadilah teman bermain, serta dengarkan cerita ataupun keluhan mereka. Hal ini akan membuat mereka merasa diperhatikan, merasakan kenyamanan batin, serta merasa bahwa orang tua ada bagi mereka sehingga kondisi emosi menjadi lebih stabil dan bepengaruh pada perilaku mereka.  

 

7.     Hindari memberikan hukuman fisik

Hukuman fisik seperti menampar, memukul, mencubit selain dapat beresiko membuat anak terluka secara fisik, juga dapat menimbulkan luka batin yang membekas di diri anak dalam waktu yang lama, serta dapat menjadi contoh buruk bagi anak. Hukuman fisik dapat menghentikan perilaku negatif anak untuk sementara waktu karena rasa takut, namun di kemudian hari luka batin anak dapat terekspresikan dalam bentuk perilaku negatif seperti perilaku merusak atau menyakiti orang lain.

 

Untuk dapat menjalankan tehnik-tehnik di atas dengan baik, orang tua perlu pula memastikan diri dalam kondisi mental yang baik dan terkontrol. Kondisi ini dapat diupayakan dengan cara berusaha memberikan perhatian pada diri sendiri melalui asupan makanan yang sehat, menyempatkan diri berolah raga, menyempatkan diri melakukan hal yang disukai, serta istiraha dengan cukup. Apabila ada lebih dari satu orang dewasa di rumah, usahakan untuk dapat saling bergantian dan berbagi peran dalam mendampingi anak. Munculnya reaksi emosi kesal, marah, atau seperti kehabisan akal dalam menghadapi perilaku negatif adalah hal hal yang wajar. Hal yang terpenting adalah berusaha menyadari ketika reaksi emosi tersebut muncul, sempatkan waktu untuk duduk sejenak dan mengatur nafas secara perlahan, serta ucapkan kata-kata positif yang dapat menenangkan hati.

 

 

 

Referensi:

https://www.healthychildren.org/English/health-issues/conditions/COVID-19/Pages/Parenting-in-a-Pandemic.aspx


Bagikan :