Media Penyuluhan Sosial Dan Framing

Media Penyuluhan Sosial Dan Framing

Ada sebuah teori menarik dalam ilmu komunikasi yang bernama framing. Dictionary of Mass Communication mengatakan bahwa  framing adalah teori atau proses tentang bagaimana pesan media massa memperoleh perspektif, sudut pandang, atau bias. Lebih menariknya, teori framing kerapkali dikaitkan dengan teori agenda setting karena kedua teori tersebut berbicara tentang bagaimana media mengalihkan perhatian khalayak dari kepentingan sebuah isu ke dalam apa yang ingin diproyeksikan dan digunakan untuk mengetahui efek media.

Secara harfiyah, framing artinya pembingkaian dari kata frame yang berarti bingkai. Framing merupakan bagian dari strategi komunikasi media dan/atau komunikasi jurnalistik. Pengertian praktisnya, framing adalah menyusun atau mengemas informasi tentang suatu peristiwa dengan misi pembentukan opini atau menggiring persepsi publik terhadap sebuah peristiwa. Framing berita merupakan perpanjangan dari teori agenda setting, yaitu pemilihan fakta dalam sebuah peristiwa yang dinilai penting disajikan dan dipikirkan pembaca (publik). Framing tidak berbohong, tapi ia mencoba membelokkan fakta dengan halus melalui penyeleksian informasi, penonjolan aspek tertentu, pemilihan kata, bunyi, atau gambar, hingga meniadakan informasi yang seharusnya disampaikan. 

Framing bertujuan untuk membingkai sebuah informasi agar melahirkan: citra, kesan, makna tertentu yang diinginkan media, atau wacana yang akan ditangkap oleh khalayak. Secara teoritis, framing adalah cara pandang yang digunakan media atau pewarta dalam menyeleksi isu dan menulis berita. Framing adalah bagaimana seorang pewarta melaporkan sebuah peristiwa berdasarkan sudut pandangnya ada fakta yang sengaja ditonjolkan, bahkan ada fakta yang dibuang. 

Apakah mengubah perilaku dimasyarakat membutuhkan framing media?

Analisis Framing adalah pendekatan analisis untuk melihat bagaimana sebuah realitas atau peristiwa dibentuk dan dikonstruksi oleh media dengan menyeleksi isu tertentu dan mengabaikan isu lain atau menonjolkan aspek tertentu dalam sebuah peristiwa. 

Contoh terkini media framing atau framing berita adalah pemberitaan Pilpres atau Pilgub.  Media yang pro Presiden A misalnya akan gencar menonjolkan kesuksesan dan kehebatan si A. Dan sebaliknya, media yang anti si A akan berusaha mencari sisi negative, agar   publik menilai Aksisi A sebagai hal calon yang negatif.  Atau misalnya berita mengenai Covid 19. Bagaimana agar masyarakat patuh dengan aturan pemerintah. Maka dibuatlah sebuah berita bahwa pengidap Covid 19 jumlah dan gejalanya melebihi kejadian sebenarnya. 

Namun demikian Framing merupakan metode penyajian realitas. Kebenaran tentang suatu kejadian tidak diingkari secara total, melainkan dibelokkan secara halus, dengan memberikan penonjolan pada aspek tertentu. Seara teoretis, sejumlah pakar yang mengemukakan teori atau model framing antara lain Murray Edelman, Robert N. Etman, William A. Gamson, serta Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki. Framing didefinisikan sebagai proses membuat suatu pesan lebih menonjol, menempatkan informasi lebih daripada yang lain sehingga khalayak lebih tertuju pada pesan tersebut. Maka, dengan framing ini, peristiwa yang sama bisa menghasilkan berita dan persepsi yang berbeda. Framing umumnya ditandai dengan menonjolkan aspek tertentu dari realitas.

Lalu apakah media Penyuluhan Sosial membutuhkan Framing untuk mengubah perilaku yang ada di masyarakat? Jawabnya ada pada pemangku kepentingan dan para pengambil kebijakan  (tamy, Pensos Madya

Share :